Archive for the ‘Saraf’ Category

TEMPO.CO, Illinois – Mari kita jujur: terdiagnosis penyakit Parkinson bisa sangat mengerikan. Bahkan survei April 2011 oleh Yayasan Parkinson Nasional Amerika Serikat mengungkapkan bahwa orang akan menghindari mengunjungi dokter untuk membahas Parkinson. Bahkan ketika mengalami gejala yang mengkhawatirkan, seperti tangan bergetar.

Bagaimana pun, pengobatan–meski tidak dapat menyembuhkan Parkinson–dapat membeli waktu Anda. “Sekarang banyak beredar obat dengan potensi memperlambat perkembangan penyakit,” kata ahli saraf, Michael Rezak, Direktur The American Parkinson’s Disease Association National Young Onset Center.

Penyakit Parkinson terjadi ketika sel-sel saraf di otak yang menghasilkan neurotransmitter dopamine mulai mati. Penting mengetahui tanda-tanda awal penyakit ini karena orang kerap tidak tak menyadari mereka memiliki Parkinson dan tahu-tahu penyakit itu telah berkembang. “Saat Anda mengalami gejala-gejala utama Parkinson, seperti tremor dan kekakuan, Anda sudah kehilangan 40 sampai 50 persen dari produksi neuron dopamin. Memulai pengobatan dini memungkinkan Anda mempertahankan kehilangan dalam jumlah besar,” Rezak menuturkan.

Berikut ini 10 tanda awal penyakit Parkinson:

1. Hilangnya indera penciuman
Hilangnya bau kerap diikuti dengan hilangnya rasa. Dopamin adalah pengantar kimia yang membawa sinyal antara otak dan otot dan saraf di seluruh tubuh. Seperti yang memproduksi dopamin sel mati, indera penciuman menjadi terganggu, dan pesan seperti isyarat bau tidak sampai.
“Pasien mengatakan mereka berada di pesta dan semua orang berkomentar tentang seberapa kuat parfum salah seorang wanita, dan dia tidak bisa mencium baunya,” kata Rezak.

2. Sulit tidur

Ahli saraf tetap waspada terhadap kondisi tidur cepat yang dikenal sebagai rapid eye-movement behavior disorder (RBD). Orang dengan RBD mungkin berteriak, menendang, atau menggemeretakkan gigi mereka. Mereka bahkan dapat menyerang pasangan tidur mereka. Sebanyak 40 persen orang dengan RBD akhirnya mengembangkan Parkinson paling tidak 10 tahun kemudian, kata, Rezak.

Dua masalah tidur lainnya yang umumnya berkaitan dengan Parkinson adalah sindrom kaki gelisah (kesemutan atau rasa tusukan di kaki dan perasaan bahwa Anda harus memindahkan mereka) dan tiba-tiba berhenti bernapas sejenak saat tidur (sleep apnea).

Tidak semua pasien dengan kondisi ini memiliki Parkinson, tapi sejumlah besar pasien Parkinson–hingga 40 persen dalam kasus sleep apnea–memiliki kondisi ini.

3. Mengalami sembelit dan problem berkemih

Salah satu tanda awal yang paling umum dari Parkinson–dan yang paling diabaikan karena ada banyak kemungkinan penyebab–adalah sembelit dan kentut. Ini hasil dari penyakit Parkinson yang mulai mempengaruhi sistem saraf otonom, yang mengatur aktivitas otot halus seperti yang bekerja perut dan kandung kemih. Usus dan kandung kemih dapat menjadi kurang sensitif dan memperlambat proses pencernaan keseluruhan.

Salah satu cara untuk mengenali perbedaan antara sembelit biasa dan sembelit disebabkan oleh Parkinson adalah bahwa yang terakhir sering disertai dengan perasaan kenyang, bahkan setelah makan sangat sedikit.

4. Kurangnya ekspresi wajah

Kehilangan dopamin dapat mempengaruhi otot-otot wajah, membuat mereka kaku dan lambat dan mengakibatkan kurangnya karakteristik ekspresi. “Beberapa orang menyebutnya sebagai wajah batu atau wajah poker,” kata ahli saraf Pam Santamaria, ahli Parkinson di Nebraska Medical Center di Omaha.

5. Nyeri pada leher

Tanda ini sangat sering terjadi pada wanita, setelah mengeluhkan tremor dan kekakuan. Nyeri leher ini sifatnya terus berlanjut, tidak seperti kram otot biasa yang hilang setelah satu atau dua hari. Pada beberapa orang, muncul mati rasa dan kesemutan.

6. Lambat saat menulis

Salah satu gejala Parkinson, yang dikenal sebagai bradykinesia, adalah perlambatan dan hilangnya gerakan spontan dan rutin. Tulisan tangan adalah salah satu tempat yang paling umum untuk mengenai tanda bradykinesia.

Mencuci dan berpakaian juga digunakan untuk menandai kemunculan bradykinesia. Seseorang mungkin butuh waktu lama untuk berdandan atau berurusan dengan ritsleting dan pengencang lainnya.

7. Perubahan suara

Suara mulai berubah, sering menjadi jauh lebih lembut dan lebih monoton. Ini adalah tanda yang sering dilupakan dokter yang mendiagnosis seseorang dengan penyakit ini. Otot-otot wajah yang kaku membuatnya lebih sulit mengatakan sesuatu dengan jelas. “Beberapa pasien mulai mengalami kesulitan membuka mulut mereka,” kata Rezak.

8. Lengan tidak berayun bebas

Lengan tak bisa direntangkan dengan bebas, sehingga untuk meraih vas bunga di rak tertinggi akan mengalami kesulitan. Bisa juga, salah satu lengan tak bebas berayun seperti lengan lainnya.

9. Berkeringat secara berlebihan

Ketika Parkinson mempengaruhi sistem saraf otonom, ia kehilangan kemampuannya untuk mengatur tubuh, yang dapat menyebabkan perubahan pada kulit dan kelenjar keringat. Beberapa orang menemukan diri mereka berkeringat secara tak terkendali ketika tidak ada alasan yang jelas, seperti panas atau kecemasan. Bagi seorang wanita, serangan ini kabur dengan gejala menopause. Istilah resmi untuk gejala ini adalah hiperhidrosis.

10. Perubahan suasana hati dan kepribadian

Para ahli tidak yakin mengapa, tapi ada berbagai perubahan kepribadian terkait dengan yang datang dengan Parkinson, termasuk kecemasan diucapkan dalam situasi baru, penarikan sosial, dan depresi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa depresi pada seseorang yang sebelumnya tidak mengalaminya adalah tanda pertama pada kebanyakan pasien Parkinson.

TRIP B | CARING

http://m.tempo.co/2012/02/25/386328/

Tai Chi Bantu Atasi Parkinson

Posted: 10/02/2012 in Saraf

TEMPO.CO, New York – Seni bela diri kuno Cina Tai Chi mampu mengatasi sindrom Parkinson. Kesimpulan ini didapat dari hasil kajian Institut Penelitian Oregon di Eugene, Amerika Serikat.

Fuzhong Li, peneliti dari Institut di Oregon, memaparkan kajian terhadap 195 pasien Parkinson dengan tingkat sedang hingga tinggi. Kajian ini dipaparkan dalam Jurnal Kesehatan New England, Rabu, 9 Febuari 2012 lalu.

Seperti diketahui, pasien Parkinson adalah orang yang mengalami gangguan otak. Biasanya mereka sering mengalami tremor atau getar, kaku, dan gerakan menyentak yang mempengaruhi cara jalan penderita. Bagi penderita, tim medis tentunya akan menyarankan untuk menjalani terapi fisik atau olahraga. Nah, Tai Chi yang gerakannya lembut dan lambat ini dianggap sebagai salah satu solusi bagi penyakit tersebut.

Fuzhong Li menguji tiap partisipan dengan mengajak mereka mengikuti kelas dua kali dalam sepekan. Peserta dibagi dua kelompok, ada yang hanya menerima latihan peregangan dan latihan ketahanan yang meliputi menekuk lutut dengan beban pergelangan kaki dan rompi pemberat. Ada pula yang mengikuti Tai Chi secara utuh.
Tai Chi yang dikhususkan pasien Parkinson ini memfokuskan latihan pada “ayunan dan goyangan” serta gerakan pengalihan berat. Setelah enam bulan, kelompok tersebut ternyata mengalami perbaikan lebih banyak ketimbang kelompok yang hanya menjalani peregangan.

Menurut Li yang pernah menjadi guru Tai Chi untuk aktor Michael J Fox, kelompok ini lebih memiliki kesimbangan, kontrol, dan langkah, yang baik. Seni beladiri ini tentunya aman, mudah, dan tidak membutuhkan alat. “Orang-orang mencari program alternatif dan salah satunya Tai Chi,” katanya.

AP|DIANING SARI

http://m.tempo.co/2012/02/09/382756/

ANLS – ANCCS 2012

Posted: 30/01/2012 in Hot News, Saraf

Pelatihan ANLS (Advanced Neurologic Life Support)


TS yang terhormat,
Kami mengundang TS untuk mengikuti pelatihan ANLS tahun 2011 – 2012.
Berikut kami informasikan jadwal – jadwal pelatihan ANLS tahun 2011 – 2012.

ANLS (Advanced Neurologic Life Support)

Waktu * :
Periode I 24 – 25 September 2011 (Fully Booked)
Periode II 26 – 27 November 2011 (Fully Booked)
Periode III 17 – 18 Desember 2011 (Fully Booked)
Periode IV 14 – 15 Januari 2012 (Fully Booked)
Periode V 18 – 19 Februari 2012 (Fully Booked)
Periode VI 17 – 18 Maret 2012
Periode VII 14 – 15 April 2012
Periode VIII 12 – 13 Mei 2012

Tempat : HOTEL SOFYAN BETAWI Jakarta
Jl. Cut Mutia No.9 Jakarta 10330

Fasilitas :

• Pelatihan ANLS selama 2 hari (Hari Sabtu – Minggu)
• Buku Panduan ANLS
• Sertifikat ANLS (Akreditasi 8 SKP dari IDI
Masa Berlaku Sertifikat 5 tahun.
• Konsumsi (1x Lunch + 2x Coffee Break) / hari.

Biaya * : Rp. 2.500.000 / Peserta

Pendaftaran via SMS :

Ketik : ANLS # Tgl Pelatihan # Nama Lengkap # No.Handphone,
Kirim ke 08788 9699 789
Contoh : ANLS # 24 – 25 September 2011 # Mia Afiyani # 08788 9699 789

Info dan Registrasi :No HP : 08788 9699 789
Email : kursuskedokteran@gmail.com
Facebook : kursuskedokteran@gmail.com

( Pelatihan ANLS ini hanya dapat diikuti oleh dokter, minimal sarjana kedokteran )
Ket (*) : Jadwal & Biaya dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya

Atas Perhatiannya Kami ucapkan terima kasih

Panitia Pelaksana

Pelatihan ANCCS (Advanced Neuro Criticall Case Support) Thn 2012


ANCCS (Advanced NEURO Criticall Care Support)

Waktu* :
Periode I 25 – 26 Februari2012.
Tempat : HOTEL SOFYAN BETAWI, Jl. Cut MutiaNo.9, Jakarta Pusat

Fasilitas :
• Pelatihan ANCCS selama 2 hari (Hari Sabtu – Minggu).
• BukuPanduan ANCCS
• Sertifikat ANLS (Akreditasi dari IDI).
• Konsumsi(1x Lunch + 2x Coffee Break) / hari.

Biaya* : Rp. 2.500.000 / Peserta

Pendaftaranvia SMS :
Ketik : ANCCS # Tgl Pelatihan# Nama Lengkap # No.Handphone,
Kirim ke 08788 9699 789
Contoh : ANCCS # 28 – 29 Januari 2012 # Mia Afiyani # 08788 9699 789

Infodan Registrasi, dpt m’hub 08788 9699 789

Email : kursuskedokteran@gmail.com
Facebook : kursuskedokteran@gmail.com

(Pelatihan ANLS ini dapat diikuti oleh Dokter umum dengan persyaratan mengikuti pelatihan ANLS terlebih dahulu, Dokter Spesialis Saraf & Residen PPDS Saraf)

Ket (*) : Jadwal & Biaya dapat berubah sewaktu-waktu tanpapemberitahuan sebelumnya

http://seminarkedokteran.blogspot.com/2009/03/blog-post_04.html

Mengisap Listrik di Otak

Stroke ringan bisa disembuhkan dengan terapi elektromagnetik. Cukup manjur, tapi tidak semua percaya.

Terapi otak dengan alat terapi rangsang otak transcranial magnetic stimulation di Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih oleh dr. Ananda S. Sp.S.

AMINAH Harsini, 65 tahun, pusing mendadak setelah makan siang. Ia mengira masuk angin karena telat makan. Karena lemas, Aminah memutuskan tidur siang. Bukan merasa lebih baik, ia malah semakin lemas dan pusing. Aminah terpaksa dipapah kedua anaknya ke rumah sakit terdekat di Depok, Jawa Barat. Selama diobservasi di rumah sakit, Aminah Merasa satu sisi tubuhnya hilang.

Aminah tidak merespons saat diajak bicara oleh anak-anaknya yang berdiri di sebelah kirinya. “Saya tidak menyadari bahwa sisi kiri tubuh saya benar-benar lumpuh. Ini sangat aneh, karena tubuh saya seolah-olah mengakui sisi kanan saja. Perasaan ini membuat saya sangat frustrasi,” ujarnya.

Dokter menyebut keadaan Aminah sebagai hemispatial neglect, atau pengabaian salah satu sisi tubuh. Penyebabnya adalah kerusakan di sisi otak yang berlawanan. Pada kebanyakan penderita hemispatial neglect, otak yang rusak adalah otak bagian kanan (stroke hemisfer) di wilayah depan (temporo parietal). Ketika otak kanan rusak, bagian tubuh yang lumpuh adalah sebelah kiri.

Beberapa peneliti memperkirakan 25 – 48 persen penderita stroke mengalami kondisi ini. “Angka kejadiannya meningkat seiring dengan luasnya kerusakan otak yang terjadi pada saat awal,” ujar ahli Neurologi yang juga Dokter Spesialis Saraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Julintari Indriyani.

Biasanya, untuk menormalkan keadaan pasien stroke dengan kondisi pengabaian sisi tubuh sebelah, dokter menggunakan terapi gerak atau latihan konsentrasi. Media yang digunakan bisa berupa pensil atau buku, bahkan komputer. Namun sebulan yang lalu, sebuah penelitian di Italia membuktikan, pasien stroke yang mengalami masalah pengabaian salah satu sisi tubuh dapat disembuhkan dengan cara dirangsang otaknya dengan medan magnet.

Dalam dunia kedokteran, metode merangsang otak secara magnetis disebut Transcranial Magnetic Stimulation (TMS)

Pada awalnya metode TMS digunakan untuk memantau pasien yang mengalami kelainan saraf, seperti epilepsi, atau alzheimer. Namun seiring dengan perkembangannya, TMS dapat digunakan sebagai sarana penyembuhan stroke.

Ini memang bukan cara baru. Di Indonesia bahkan sudah dipakai sejak 2 – 3 tahun lalu. Penelitian yang dipimpin Profesor Giacomo Koch itu hanya membuktikan keampuhan terapi yang banyak diragukan ini.

Penelitian dilakukan terhadap 20 pasien stroke yang mengalami pengabaian salah satu sisi tubuh. Koch membagi pasien ke dalam dua kelompok, yaitu yang menerima rangsangan magnetis dan yang hanya meminum obat secara biasa.

Pada dua minggu pertama, otak pasien yang dirangsang secara magnetis pulih hingga 16 persen. Dua minggu berikutnya meningkat 23 persen.

“Bagian otak pasien yang menghasilkan aktivitas listrik berlebihan, ketika menerima rangsangan magnetis, kembali menjadi normal,” ujar Koch.

Menurut penelitian Koch, merangsang otak dengan medan magnet tidak hanya berguna bagi penderita stroke pengabaian salah satu sisi tubuh, tapi juga pada pasien yang dalam masa pemulihan setelah terkena stroke ringan. “Teknik ini membantu proses pemulihan pasien setelah terserang stroke,” ujar Koch. Hasil penelitian Koch ini dipublikasikan dalam World Journal of Neurology.

Bagimana alat ini bekerja? Untuk mengetahuinya, kita harus tahu terlebih dulu penyebab hemispatial neglect. Rusaknya otak sebelah kanan ini karena kelebihan aktivitas di otak kiri. Menurut dr.Julintari Sp.S, kelebihan aktivitas di otak kiri disebabkan oleh meningkatnya aktivitas listrik disana.

TMS digunakan untuk menormalkan aktivitas otak dengan mengurangi aktivitas listriknya melalui medan magnet. “Stimulasi magnetis ini secara aman dapat menembus jaringan saraf otak, tanpa mempengaruhi tulang atau lemak, dan tanpa rasa sakit,” ujar dr.Julintari Sp.S.

Penggunaan TMS tidak memerlukan tindakan invasif atau memasukkan alat atau obat ke tubuh pasien. Tindakan ini juga tidak memerlukan operasi.

TMS menggunakan arus listrik yang dihantarkan melalui kumparan kawat tembaga dan diletakkan di atas kulit kepala. Arus kemudian menghasilkan medan magnet yang menembus kulit kepala serta tulang dengan leluasa.

Menurut dr.Julintari Sp.S, tidak ada perasiapan khusus untuk memulai terapi TMS. Namun, ia menegaskan, ada beberapa kondisi pasien yang tidak diperbolehkan menerima terapi TMS, yaitu pasien yang menggunakan alat pacu jantung dan pasien yang salah satu organ tubuhnya menggunakan implan tembaga.

“Selain itu, saat TMS dilakukan, benda bermagnet seperti kartu kredit, kartu kunci hotel, disket, harus dijauhkan sekitar 50 sentimeter dari lempeng tembaga,” ujar dr.Julintari Sp.S. “Sebab, ada kemungkinan data yang ada dalam benda-benda tersebut bisa terhapus saat didekatkan dengan lempeng tembaga pada TMS,” ujar dokter yang juga kepala staf medik fungsional Neurologi di sebuah rumah sakit di Jakarta ini.

Walaupun praktis, penggunaan TMS tetap beresiko, yaitu mengakibatkan kejang, mempengaruhi mood, mengganggu pendengaran, membuat telinga berdenging, mengakibatkan luka bakar pada kulit kepalaa, dan menyebabkan nyeri di beberapa bagian kepala. “Meski begitu, secara umum penggunaan TMS relatif aman, asal memperhatikan indikasi dan kontraindikasinya,” ujar dr.Julintari Sp.S.

Selain itu, biaya operasional yang relatif mahal tidak memungkinkan metode ini digunakan di banyak rumah sakit umum. Saat ini di Jakarta hanya ada tujuh rumah sakit yang menyediakan terapi TMS, antara lain RS. Gatot Subroto, RS. Medistra, RS. Jakarta, RS. Melia, RSCM, dan RSUD Budhi Asih.

Tidak semua dokter setuju dengan konsep penyembuhan melalui rangsangan medan magnet pada otak ini. Masih banyak dokter yang menganggap TMS sama sekali tidak bekerja pada pasien stroke. Alasan mereka, stroke hanya memiliki dua konsekuensi akhir, yaitu meninggal atau cacat permanen.

“Kalau hanya saraf tepi yang masih terserang, mungkin masih bisa diperbaiki. Tapi, kalau sudah otak utama yang kena, tidak ada lagi yang dapat dilakukan,” ujar ahli Neurologi dari RS PMI Bogor, dr. Yoeswar A.Darisan Sp.S.

Menurut dr.Yoeswar A.Darisan Sp.S, hanya ada satu cara menghindari stroke, yaitu menghindari tiga faktor resiko stroke, seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol. “Mau pakai apapun, satu-satunya cara menghindari stroke harus menghindari faktor resikonya. Jika terlanjur memiliki faktor resiko, ada baiknya dijaga dan sering memeriksakan diri ke dokter,” ujarnya.

Cheta Nilawaty

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2012/01/16/KSH/mbm.20120116.KSH138681.id.html

Coordination
Coordination is evaluated by testing the patient’s ability to perform rapidly alternating and point-to-point movements correctly.

Rapidly Alternating Movement Evaluation

Ask the patient to place their hands on their thighs and then rapidly turn their hands over and lift them off their thighs. Once the patient understands this movement, tell them to repeat it rapidly for 10 seconds. Normally this is possible without difficulty. This is considered a rapidly alternating movement.

Dysdiadochokinesis is the clinical term for an inability to perform rapidly alternating movements. Dysdiadochokinesia is usually caused by multiple sclerosis in adults and cerebellar tumors in children. Note that patients with other movement disorders (e.g. Parkinson’s disease) may have abnormal rapid alternating movement testing secondary to akinesia or rigidity, thus creating a false impression of dysdiadochokinesia.

Point-to-Point Movement Evaluation
Finger to Finger

Next, ask the patient to extend their index finger and touch their nose, and then touch the examiner’s outstretched finger with the same finger. Ask the patient to go back and forth between touching their nose and examiner’s finger. Once this is done correctly a few times at a moderate cadence, ask the patient to continue with their eyes closed. Normally this movement remains accurate when the eyes are closed. Repeat and compare to the other hand.

Dysmetria is the clinical term for the inability to perform point-to-point movements due to over or under projecting ones fingers.
Next have the patient perform the heel to shin coordination test. With the patient lying supine, instruct him or her to place their right heel on their left shin just below the knee and then slide it down their shin to the top of their foot. Have them repeat this motion as quickly as possible without making mistakes. Have the patient repeat this movement with the other foot. An inability to perform this motion in a relatively rapid cadence is abnormal.

The heel to shin test is a measure of coordination and may be abnormal if there is loss of motor strength, proprioception or a cerebellar lesion. If motor and sensory systems are intact, an abnormal, asymmetric heel to shin test is highly suggestive of an ipsilateral cerebellar lesion.

Dix-Hallpike test

The Dix-Hallpike test or Nylen-Barany test is a diagnostic maneuver used to identify benign paroxysmal positional vertigo (BPPV).

The Dix-Hallpike test is performed with the patient sitting upright with the legs extended. The patient’s head is then rotated by approximately 45 degrees. The clinician helps the patient to lie down backwards quickly with the head held in approximately 20 degrees of extension. This extension may either be achieved by having the clinician supporting the head as it hangs off the table or by placing a pillow under their upper back. The patient’s eyes are then observed for about 45 seconds as there is a characteristic 5-10 second period of latency prior to the onset of nystagmus. If rotational nystagmus occurs then the test is considered positive for benign positional vertigo. During a positive test, the fast phase of the rotatory nystagmus is toward the affected ear, which is the ear closest to the ground. The direction of the fast phase is defined by the rotation of the top of the eye, either clockwise or counter-clockwise. Home devices are available to assist in the performance of the Dix-Hallpike Maneuver for patients with a diagnosis of BPPV.

There are several key characteristics of a positive test:
Latency of onset (usually 5-10 seconds)
Torsional (rotational) nystagmus. If no torsional nystagmus occurs but there is upbeating or downbeating nystagmus, a central nervous system (CNS) dysfunction is indicated.
Upbeating or downbeating nystagmus. Upbeating nystagmus indicates that the vertigo is present in the posterior semicircular canal of the tested side. Downbeating nystagmus indicates that the vertigo is in the anterior semicircular canal of the tested side.
Fatigable nystagmus. Multiple repetition of the test will result in less and less nystagmus.
Reversal. Upon sitting after a positive maneuver the direction of nystagmus should reverse for a brief period of time.

To complete the test, the patient is brought back to the seated position, and the eyes are examined again to see if reversal occurs. The nystagmus may come in paroxysms and may be delayed by several seconds after the maneuver is performed.

If the test is negative, it makes benign positional vertigo a less likely diagnosis and CNS involvement should be considered.

Pendular Reflexes

Pendular reflexes are not brisk but involve less damping of the limb movement than is usually observed when a deep tendon reflex is elicited. Patients with cerebellar injury may have a knee jerk that swings forwards and backwards several times. A normal or brisk knee jerk would have little more than one swing forward and one back. Pendular reflexes are best observed when the patient’s lower legs are allowed to hang and swing freelly off the end of an examining table.

Gait

Gait is evaluated by having the patient walk across the room under observation. Gross gait abnormalities should be noted. Next ask the patient to walk heel to toe across the room, then on their toes only, and finally on their heels only. Normally, these maneuvers possible without too much difficulty.
Be certain to note the amount of arm swinging because a slight decrease in arm swinging is a highly sensitive indicator of upper extremity weakness.
Also, hopping in place on each foot should be performed.

Walking on heels is the most sensitive way to test for foot dorsiflexion weakness, while walking on toes is the best way to test early foot plantar flexion weakness.

Abnormalities in heel to toe walking (tandem gait) may be due to ethanol intoxication, weakness, poor position sense, vertigo and leg tremors. These causes must be excluded before the unbalance can be attributed to a cerebellar lesion. Most elderly patients have difficulty with tandem gait purportedly due to general neuronal loss impairing a combination of position sense, strength and coordination. Heel to toe walking is highly useful in testing for ethanol inebriation and is often used by police officers in examining potential “drunk drivers”.

Tandem gait

Tandem gait is a gait (method of walking or running) where the toes of the back foot touch the heel of the front foot at each step. Neurologists sometimes ask patients to walk in a straight line using tandem gait as a test to help diagnose ataxia, especially truncal ataxia, because sufferers of these disorders will have an unsteady gait. However, the results are not definitive, because many disorders or problems can cause unsteady gait (such as vision difficulties and problems with the motor neurons or associative cortex). Therefore, inability to walk correctly in tandem gait does not prove the presence of ataxia.

Fukuda Test
The “stepping test” was first developed by Fukuda as a test of vestibular function. More recently, the test has been shown to greater reflect somatosensory function

The test is performed by having the patient stand with eyes closed, arms outstretched and wearing ear muffs. The patient marches in place at the pace of a brisk walk while keeping the eyes closed. The doctor observes for any rotation that takes place. Rotation of 30 degrees or more is considered a positive test. The significance of the test is that it suggests the presence of either faulty kinesthetic sense or tonic neck reflexes (or both). In the low back pain patient, a positive test is likely a reflection of either faulty kinesthetic sense or faulty tonic lumbar reflexes.

Romberg Test

Next, perform the Romberg test by having the patient stand still with their heels together. Ask the patient to remain still and close their eyes. If the patient loses their balance, the test is positive.
To achieve balance, a person requires 2 out of the following 3 inputs to the cortex: 1. visual confirmation of position, 2. non-visual confirmation of position (including proprioceptive and vestibular input), and 3. a normally functioning cerebellum. Therefore, if a patient loses their balance after standing still with their eyes closed, and is able to maintain balance with their eyes open, then this is indicative of pathology in the proprioceptive pathway. This is a positive Romberg.

To conclude the gait exam, observe the patient rising from the sitting position. Note gross abnormalities.

http://edinfo.med.nyu.edu/courseware/neurosurgery/coordination.html