Archive for the ‘Ibu&Tumbuh Kembang Anak’ Category

Mengapa MTBS sedemikian pentingnya untuk diketahui?

Sebagaimana diketahui, derajat kesehatan merupakan pecerminan kesehatan perorangan, kelompok, maupun masyarakat yang digambarkan dengan umur harapan hidup, mortalitas, morbiditas, dan status gizi masyarakat. Sehat dapat mencakup pengertian yang sangat luas, selain bebas dari penyakit tetapi juga tercapainya keadaan kesejahteraan baik fisik, sosial dan mental.

Ditinjau dari hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, maka angka kematian neonatal (AKN), angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian balita (AKBA) adalah 19/1000 kelahiran hidup (KH), 34/1000 KH dan 44/1000KH. Artinya, kematian balita (0- 59 bulan) masih tinggi. Untuk itu, diperlukan kerja keras dalam upaya menurunkan angka kematian tersebut, termasuk diantaranya peningkatan keterampilan tenaga kesehatan dalam menangani balita sakit, utamanya bidan dan perawat di Puskesmas sebagai lini terdepan pemberi pelayanan.

Tenaga kesehatan yang mana yang perlu ditingkatkan ketrampilannya? Keterampilan yang mana?

Peningkatan keterampilan perawat dan bidan dalam tata laksana balita sakit secara komprehensif dilaksanakan dengan pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit atau lebih dikenal dengan MTBS. Kegiatan ini dilaksanakan secara pre-service dan atau in-service training. Manajemen Terpadu Balita Sakit merupakan standar pelayanan bagi balita sakit dan dinilai cost effective serta berkontribusi sangat besar untuk menurunkan angka kematian neonatus, bayi dan balita bila dilaksanakan secara luas, baik, dan benar.

Untuk mengenal MTBS, berikut ini ulasannya.

Sejarah penerapan MTBS di Indonesia

MTBS telah diadaptasi pada tahun 1997 atas kerjasama antara Kementerian Kesehatan RI, WHO, Unicef dan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan terpadu dalam tatalaksana balita sakit.

MTBS bukan merupakan program kesehatan,tetapi suatu standar pelayanan dan tatalaksana balita sakit secara terpadu di fasilitas kesehatan tingkat dasar. WHO memperkenalkan konsep pendekatan MTBS dimana merupakan strategi upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan bayi dan anak balita di negara-negara berkembang.

Ada 3 komponen dalam penerapan strategiMTBS yaitu:
Komponen I : meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit (dokter, perawat, bidan, petugas kesehatan)
Komponen II : memperbaiki sistem kesehatan agar penanganan penyakit pada balita lebih efektif
Komponen III : Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan pemberdayaan keluarga dan masyarakat, yang dikenal sebagai “Manajemen Terpadu Balita Sakit berbasis masyarakat”).

Untuk keberhasilan penerapan MTBS, proporsi penekanan pada ketiga komponen harus sama besar.

Tujuan MTBS :

- Menurunkansecara bermakn aangka kematian dan kesakitan yang terkait penyakit tersering pada balita.

- Memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan kesehatan anak.

Menurut data Riskesdas tahun 2007, penyebab kematian perinatal 0 – 7 hari terbanyak adalah gangguan/kelainan pernapasan (35,9 %), prematuritas (32,4 %), sepsis (12,0 %).Kematian neonatal 7 – 29 hari disebabkan oleh sepsis (20,5 %), malformasi kongenital (18,1 %) dan pneumonia (15,4 %). Kematian bayi terbanyak karena diare (42 %) dan pneumonia (24 %), penyebab kematian balita disebabkan diare (25,2 %), pneumonia (15,5 %) dan DBD (6,8 %).

Penyakit-penyakit terbanyak pada balita yang dapat di tata laksana dengan MTBS adalah penyakit yang menjadi penyebab utama kematian, antara lain pneumonia, diare, malaria, campak dan kondisi yang diperberat oleh masalah gizi (malnutrisi dan anemia). Langkah pendekatan pada MTBS adalah dengan menggunakan algoritma sederhana yang digunakan oleh perawat dan bidan untuk mengatasi masalah kesakitan pada Balita. Bank Dunia, 1993 melaporkan bahwa MTBS merupakan intervensi yang cost effective untuk mengatasi masalah kematian balita yang disebabkan oleh Infeksi Pernapasan Akut (ISPA), diare, campak malaria, kurang gizi, yang sering merupakan kombinasi dari keadaan tersebut.

Pendekatan MTBS di Indonesia pada awalnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan kesehatan dasar (Puskesmas dan jaringannya termasuk Pustu, Polindes, Poskesdes, dll). MTBS mengkombinasikan perbaikan tatalaksana kasus

pada balita sakit (kuratif) dengan aspek gizi, imunisasi dan konseling ( promotif dan preventif)

Agar penerapan MTBS dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan, maka diperlukan langkah-langkah secara sistematis dan menyeluruh, meliputi pengembangan sistem pelatihan, pelatihan berjenjang, pemantauan pasca pelatihan, penjaminan ketersediaan formulir MTBS, ketersediaan obat dan alat, bimbingan teknis dan lain-lain.

Dari kedua survey di atas, menunjukkan bahwa kematian neonatal mendominasi penyebab kematian bayi dan balita.

Puskesmas dikatakan sudah menerapkan MTBS apabila memenuhi kriteria melaksanakan/melakukan pendekatan MTBS minimal 60% dari jumlah kunjungan balita sakit di puskesmas tersebut.

Mengingat MTBS telah diterapkan di Indonesia sejak 1997 dan banyak pihak yang telah berkontribusi dalam pelatihan MTBS, tentunya banyak tenaga kesehatan yang telah dilatih MTBS dan banyak insitusi yang terlibat di dalamnya. Sudah banyak fasilitator dilatih MTBS dan para fasilitator ini sudah melatih banyak tenaga kesehatan, baik di tingkat desa dan puskesmas.

Keberhasilan penerapan MTBS tidak terlepas dari adanya monitoring pasca pelatihan, bimbingan teknis bagi perawat dan bidan, kelengkapan sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan MTB termasuk kecukupan obat-obatan. Namun, hal tersebut seringkali dihadapkan pada keterbatasan alokasi dana, sehingga diperlukan suatu metode lain untuk meningkatkan ketrampilan bidan dan perawat serta dokter akan MTBS melalui komputerisasi atau yang lebih dikenal dengan ICATT (IMCI Computerize Adaptation Training Tools), yaitu suatu aplikasi inovatifsoftware berbasis komputer untuk MTBS yang mempunyai 2 tujuan:
a). Untuk adaptasi pedomanMTBS
b). Untuk pelatihan MTBS melalui komputer.

(Sumber : Direktorat Bina Kesehatan Anak, 2011)

http://www.gizikia.depkes.go.id/archives/3274

TEMPO.CO, Jakarta – Maisaroh, sebut saja begitu, tergolek lemah di ranjang sebuah rumah sakit umum di daerah Jakarta Selatan. Tubuh bocah 6 tahun itu tinggal tulang terbungkus kulit. Padahal sebelumnya gadis kecil ini sangat aktif, sehat, cerdas, dan berprestasi di sekolahnya. Kini bocah yang gemar menari Bali ini sedang berjuang melawan komplikasi campak berupa ensefalitis alias radang otak.

“Ia terkena campak yang mulai menjalar ke otak dan sempat mengalami koma pada 27 November tahun lalu, sehingga harus dirawat di ruang ICU,” ujar Rendra, bukan nama sebenarnya, ayah kandung Maisaroh.

Setelah sadar dari komanya, Maisaroh sempat kehilangan memori. Tak hanya itu, akibat campak, ia harus berjuang melawan penyakit paru-paru dan gizi buruk. “Rubella, atau campak Jerman, telah menghantam fungsi hati, paru, dan otaknya,” ujar Rendra.

Campak adalah penyakit dengan ruam akut yang disebabkan oleh virus campak atau rubella. Gejala dimulai dengan demam, radang selaput lendir, lalu muncul ruam berwarna merah di kulit, diikuti oleh pengelupasan atau terlepasnya sisik (lapisan tanduk kulit).

Menurut Mulya Rahma Karyanti, dokter spesialis anak dari Divisi Penyakit dan Infeksi Tropis Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, virus campak termasuk golongan paramyxovirus. Virus ini dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh secara umum, sehingga mudah terjadi infeksi sekunder atau penyulit berupa komplikasi. Selain ensefalitis, komplikasi yang sering dijumpai adalah bronkopneumonia (infeksi paru) dan gastroenteritis (infeksi saluran cerna).

Selama ini campak lebih banyak menyerang bayi atau balita karena kekebalan tubuh mereka masih lemah. Penularan penyakit ini sangat mudah, yaitu melalui udara. “Campak jarang terjadi pada orang dewasa,” ujar Karyanti.

Saat masuk ke tubuh campak memiliki tiga stadium. Pada stadium pertama virus campak mengalami inkubasi selama 10-12 hari. Stadium kedua, virus campak mulai menunjukkan gejala pada pasien, seperti pilek dan batuk yang meningkat serta mata dan tenggorokan berair. Pada stadium ketiga, atau stadium penyembuhan, ruam kemerahan di kulit mulai timbul. “Dari belakang telinga menyebar ke muka, badan, lengan, dan kaki,” ujar Karyanti, “Ruam timbul didahului dengan suhu badan meningkat, selanjutnya ruam menghitam dan mengelupas.”

Tanpa penanganan yang tepat campak yang menyerang tubuh bayi atau balita dapat menyebabkan komplikasi, salah satunya berupa radang otak seperti dialami Maisaroh. Komplikasi biasanya terjadi pada hari keempat atau ketujuh setelah timbulnya ruam. Dalam sejumlah kasus komplikasi ini gagal ditangani, sehingga berujung kematian.

Komplikasi ensefalitis dapat terjadi melalui serangan langsung virus campak ke otak. Gejalanya dapat berupa kejang, letargi (berkurangnya kesadaran), dan koma. Menurut Karyanti, kasus komplikasi campak berupa ensefalitis yang berujung pada kematian jarang terjadi. “Sekitar satu dari 1.000 kasus campak dengan angka mortalitas sekitar 30-40 persen,” ujarnya.

Campak mudah menyerang bayi atau balita yang tidak diimunisasi atau di-booster (imunisasi ulang). Penyakit ini juga gampang menyerang bayi atau anak penderita gizi buruk lantaran daya tahan tubuh yang lemah.

Untuk menghindari campak, menurut Karyanti, vaksinasi campak lengkap pada anak, seperti MMR (measles, mumps, rubella), sangat perlu. Ia juga mengimbau para orang tua agar memiliki kesadaran tinggi serta tidak menganggap remeh timbulnya gejala awal campak seperti batuk dan pilek yang tidak kunjung membaik, sesak napas, lemas, sulit makan dan minum, diare, penurunan kesadaran, serta kejang. Selain memberi obat sesuai dengan keluhan, kata Karyanti, “Saat campak menyerang, hindari minuman dingin, makanan berminyak, gorengan, permen, atau makanan manis lainnya.”
CHETA NILAWATY

http://m.tempo.co/2012/02/23/385903/

JAKARTA–MICOM: Banyak ibu yang kaget dengan pola tidur bayi baru lahir. Itu bisa saja terjadi pada ibu yang baru saja melahirkan. Ada bayi yang tidur panjang dibanding berinteraksi dengan orang lain. Ada pula bayi yang doyan bergadang di malam hari.

Bayi yang baru lahir biasanya tidur 16 jam sehari. Pada usia tiga bulan, bayi tidur hanya lima jam atau lebih di malam hari. Tak heran banyak orang tua mengeluh karena harus bergadang menemani si bayi.

Pada usia 6 bulan, bayi bisa tidur 8-10 jam di malam hari, atau lebih. Namun ada juga sejumlah bayi yang tidak tidur di malam hari. Jangan cemas. Itu terjadi karena memang ada beberapa bayi yang memilih berjaga di malam hari hingga mereka berusia setahun.

Namun mengingat saat tidur adalah saat otak bayi berkembang dengan cepat, Anda perlu membentuk pola tidur bayi sejak dini. Berikut caranya:

1. Tentukan jadwal tidur yang rutin. Membacakan cerita, menyanyikan lagu pengantar tidur atau hal lain yang biasa dikerjakan untuk mengantarkan bayi tidur bisa dilakukan. Lakukan pada jam yang sama sehingga bayi mengenali inilah saatnya tidur.

2. Saat bayi mengantuk, baringkan dia di tempat tidurnya dengan posisi telentang. Jauhkan mainan dari tempat tidurnya.

3. Jika bayi terjaga karena mengompol di malam hari, gantikan popoknya. Namun hindari menyalakan lampu yang terang. Gunakan lampu yang remang-remang dan bicaralah perlahan, jadi bayi akan mengetahui sekarang bukan saat bermain. (Metrotv/OL-9)

http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2012/02/02/300017/291/7/Otak_Bayi_Berkembang_saat_Tidur_

TEMPO.CO, Jakarta- Dokter Spesialis Anak Diki Pribadi mengatakan penyebab utama kematian pada anak di Indonesiaadalah penyakit diare. “Ini berdasarkan data pemerintah, kalau data World Health Organization (WHO) diare penyebab kematian nomor 2 di dunia,” katanya usai acara talk show scotch brite “We Care” di Cilandak Town Square, Sabtu, 18 Februari 2012.

Diki menjelaskan, diare adalah perubahan buang air besar dari padat menjadi cair dan terjadi lebih dari 3 kali sehari. “Buang air besar tidak seperti biasanya, itu bisa disebut diare,” ujarnya. Ciri-ciri diare, kata Diki buang air besar berubah menjadi cair, biasanya diikuti gejala tambahan seperti muntah.

Menurut Diki, penyebab munculnya penyakit diare dari infeksi dari bakteri atau kuman, intoleransi, alergi dan keracunan. “Intoleransi yaitu tidak cocok dengan apa yang diminum dan dimakan,” dia menjelaskan. 

Diare, kata dia, dapat muncul apabila tidak terjaganya kebersihan. “Menjaga kebersihan paling bagus untuk mencegah diare.” Di Indonesia kurang terjaga kebersihannya. “Apalagi di daerah pedesaan yang lebih terlihat kumuh.”

Untuk itu, Diki menyarankan, masyarakat dapat mewaspadai penyakit diare. “Jangan sampai penanganannya terlambat,” ujarnya. Kata dia, paling banyak diare disebabkan oleh infeksi. “Untuk mencegah infeksi itu, mulailah dari sekarang untuk mencuci tangan.”

AFRILIA SURYANIS

http://m.tempo.co/2012/02/18/384894/

Surabaya, Operasi caesar karena alasan ingin melahirkan pada tanggal-tanggal tertentu seperti tanggal cantik atau alasan non kesehatan diharamkan oleh Forum Ponpes se Jawa Madura. Operasi caesar hanya boleh untuk upaya darurat dan paling terakhir.

Haramnya operasi caesar karena alasan tanggal cantik ini hasil rumusan Forum Bahtsul Masail Pondok Pesantren (Ponpes) ke-24 di Ponpes Al Falah Trenceng Tulungagung, Jatim.

Forum yang diikuti 250 santri dari 150 ponpes se-Jawa dan Madura ini selain operasi caesar, mereka juga mengharamkan menyambung rambut dan menggunakan tato alis yang dilakukan kaum perempuan.

Menurut ulama, operasi caesar itu dilakukan sebagai upaya darurat dan paling terakhir. Jika tidak ada alasan caesar, bisa dianggap salah karena membahayakan diri.

“Jika alasan caesar untuk mengejar angka tertentu karena dianggap cantik semisal 11-11-2011, maka para santri dengan tegas menyatakan haram. Sebab tidak ada alasan penting yang diatur syariat dalam percepatan kelahiran itu,” kata Perumus Bahtsul Masail Alif Murjoko usai acara, Jumat (23/12/2011).

Alif mengaku, operasi benar-benar boleh dilakukan jika itu membahayakan si ibu atau janin yang dikandung.

Sementara Perumus Bahtsul Masail Agus Alwi mengatakan selain operasi caesar hal-hal yang diharamkan lagi adalah orang-orang yang menyambung rambut dan tato alis. Sebab hal itu sama saja merubah anugerah yang diberikan Tuhan.

“Kegiatan mempercantik diri itu sebagai bentuk nyata dari tipu daya setan. Selain itu tato bersifat menyakiti diri sendiri sehingga secara fiqih diharamkan. Termasuk mencukur alis juga dilarang,” jelas Agus.

Pihaknya, kata Agus, merujuk dalam surat An Nisa ayat 119 yang menjelaskan secara gamblang bahwa setan memang telah berjanji mengganggu manusia dengan cara merubah ciptaan Alloh SWT. Sementara itu Forum Bahtsul Masail ini dilakukan rutin satu tahun 2 kali.

Operasi caesar

Operasi caesar dilakukan jika berisiko terhadap ibu dan bayi misalnya terjadi infeksi, perdarahan, ada penyakit tertentu atau bayi memiliki masalah seperti terlilit tali pusat, gangguan pernapasan atau masalah pada plasentanya.

Saat ini banyak sekali ibu hamil yang melahirkan bayinya melalui operasi caesar baik karena memiliki masalah dengan kehamilannya ataupun tidak.

Banyaknya perempuan yang melakukan operasi caesar juga dipengaruhi oleh teknologi reproduksi yang semakin canggih atau ukuran bayi yang terlalu besar karena meningkatnya penderita diabetes pada ibu hamil.

Operasi caesar merupakan salah satu jenis operasi yang diperlukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi yang dikandungnya. Tapi jika ibu seringkali melakukan operasi caesar, maka bisa berbahaya dan meningkatkan risiko kesehatan.

Risiko tersebut misalnya histerektomi (pengangkatan rahim) hampir 5 kali lebih tinggi terjadi pada perempuan yang sudah 4 kali operasi caesar, serta risiko transfusi darah lebih tinggi jika sudah 6 kali operasi caesar.

Sebagian besar dokter tidak menyarankan perempuan untuk melakukan operasi caesar lebih dari 3 kali. Jika perempuan tersebut hamil kembali, maka akan dianjurkan untuk melahirkan melalui vagina atau secara normal.
(ir/ir)

http://www.detikhealth.com/read/2011/12/23/185024/1798935/1299/operasi-caesar-agar-bayi-lahir-di-tanggal-tertentu-diharamkan?l1102755