Hanya ada Satu Wukuf… Wukuf di Padang Arafah

Shalat Idul Adha, Sabtu Atau Minggu ?

Mimbar Jum’at, 2 October, 2014. Oleh: Subchan Agus Salim (Humas HTI Kota Tangerang)

Beberapa hari ini warga masyarakat menanyakan waktu kapan sebenarnya pelaksanaan shalat Idul Adha 1435 H, Sabtu atau Minggu besok? Sementara di beberapa masjid dan tempat umum di daerah Tangerang sudah terpampang spanduk-spanduk yang berisi informasi dan ajakan shalat Idul Adha. Sebagian spanduk tertulis Sabtu 4 Oktober dan sebagian yang lain tertulis Minggu 5 Oktober 2014. Yang pasti meski berbeda hari dan tanggal Masehi tapi semua informasi menyatakan bahwa shalat Idul Adha pada 10 Dzulhijjah 1435 Hijriyah. Aneh bukan? Bayangkan umat Islam yang masih dalam satu daerah Tangerang dan bahkan mungkin satu keluarga muslim yang serumah bisa berbeda dalam berhari raya Idul Adha. Permasalahan ini lebih hangat dan ramai menjadi perbincangan di dunia maya khususnya di jejaring sosial.

Mengapa masalah perbedaan waktu shalat Idul Adha ini sangat penting untuk dibahas? Setidaknya ada beberapa hal yang harus direnungkan oleh umat Islam di Tangerang khususnya dan di Indonesia pada umumnya, yakni:
Kita hidup dalam satu wilayah bahkan satu daerah geografis yang secara fakta dan ilmiah seharusnya mustahil berbeda dalam penentuan tanggal baik Masehi maupun Hijriyah.
Pihak yang shalat Idul Adha pada hari Sabtu maka hari itu adalah hari tasyrik yang umat Islam diharamkan berpuasa, namun bagi pihak yang shalat Idul Adha pada hari Minggu maka mereka akan melaksanakan puasa sunnah Arafah pada hari Sabtu. Disinilah terjadi kontradiksi antara umat Islam yang berpotensi perpecahan karena perbedaan waktu ibadah.
Puasa sunnah Arafah (9 Dzulhijjah) bagi umat Islam di manapun berada, ditetapkan oleh Rasulullah saw berdasarkan kesamaan waktu wukuf jamaah haji di padang Arafah. Lantas jika ada 2 waktu shalat Idul Adha berarti ada 2 waktu puasa sunnah Arafah yang juga berarti ada 2 wukuf, apakah demikian? Jika wukuf yang satu di padang Arafah Mekkah Arab Saudi, lantas dimanakah tempat wukuf yang lain???

Sebenarnya masalah yang pelik ini terjadi karena pemerintah Indonesia melalui Kementrian Agama telah menetapkan bahwa Idul Adha 1435 H tahun ini jatuh pada hari Minggu 5 Oktober 2014. Sementara pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah mengumumkan bahwa 1 Dzulhijjah 1435 H jatuh bertepatan dengan tanggal 25 September 2014, maka Wukuf atau Hari Arafah (9 Dzulhijjah) jatuh pada hari Jumat 3 Oktober 2014. Dengan demikian Idul Adha (10 Dzulhijjah) akan jatuh pada hari Sabtu 4 Oktober bukan hari Minggu 5 Oktober seperti ketetapan pemerintah Indonesia.

Tulisan ini dibuat bukan untuk memecah belah umat, namun sebagai salah satu upaya untuk memberi pemahaman yang benar dan mewujudkan persatuan umat sesuai Syariah Islam. Karena itu, penjelasan dan solusi atas permasalahan di atas adalah sebagai berikut:
Sesungguhnya ulama seluruh madzhab (Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hanbali) telah sepakat mengamalkan ru’yat yang sama untuk Idul Adha. Yakni ru’yatul hilal (pengamatan bulan sabit) untuk menetapkan awal bulan Dzulhijjah, yang dilakukan oleh penduduk Mekkah. Ru’yat ini berlaku untuk seluruh dunia. Karena itu, kaum Muslim dalam sejarahnya senantiasa beridul Adha pada hari yang sama. Fakta ini diriwayatkan secara mutawatir (oleh orang banyak yang mustahil sepakat berbohong) bahkan sejak masa kenabian, dilanjutkan pada masa Khulafa’ ar-Rasyidin, Umawiyin, Abbasiyin, Utsmaniyin, hingga masa kita sekarang.
Bahwa bila umat Islam meyakini, bahwa pilar dan inti dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah hari ketika jamaah haji di Tanah Suci sedang melakukan wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi saw.:

“Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah”. (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni, Ahmad, dan al-Hakim).

Juga sabda beliau:

“….. Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian menyembelih kurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian (jamaah haji) berkumpul di Arafah”.(HR as-Syafii dari ‘Aisyah, dalam al-Umm, juz I, hal. 230).

Maka mestinya, umat Islam di seluruh dunia yang tidak sedang menunaikan ibadah haji menjadikan penentuan hari Arafah di tanah suci sebagai pedoman. Bukan berjalan sendiri-sendiri seperti sekarang ini. Apalagi Nabi Muhammad juga telah menegaskan hal itu. Dalam hadits yang dituturkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali berkata, bahwa Amir Makkah pernah menyampaikan khutbah, kemudian berkata:

“Rasulullah saw. telah berpesan kepada kami agar kami menunaikan ibadah haji berdasarkan ru’yat (hilal Dzulhijjah). Jika kami tidak bisa menyaksikannya, kemudian ada dua saksi adil (yang menyaksikannya), maka kami harus mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka”. (HR Abu Dawud, al-Baihaqi dan ad-Daruquthni).

Hadits ini menjelaskan: Pertama, bahwa pelaksanaan ibadah haji harus didasarkan kepada hasil ru’yat hilal 1 Dzulhijjah, sehingga kapan wukuf dan Idul Adhanya bisa ditetapkan. Kedua, pesan Nabi kepada Amir Mekkah, sebagai penguasa wilayah, tempat di mana ibadah haji dilaksanakan, untuk melakukan ru’yat; jika tidak berhasil, maka ru’yat orang lain, yang menyatakan kesaksiannya kepada Amir Mekkah. Berdasarkan ketentuan ru’yat global (seluruh dunia), maka Amir Mekkah berdasarkan informasi dari berbagai wilayah Islam dapat menentukan awal Dzulhijjah, Hari Arafah dan Idul Adha setiap tahunnya dengan akurat. Dengan cara seperti itu, kesatuan umat Islam, khususnya dalam ibadah haji dapat diwujudkan, dan kenyataan yang memalukan seperti sekarang ini dapat dihindari.
Menyerukan kepada seluruh umat Islam, khususnya di Indonesia agar kembali kepada ketentuan syariah, baik dalam melakukan puasa Arafah maupun Idul Adha 1435 H, dengan merujuk pada ketentuan ru’yat untuk wuquf di Arafah, sebagaimana ketentuan hadits di atas.
Menyerukan kepada umat Islam di Indonesia khususnya untuk menarik pelajaran dari peristiwa ini, bahwa demikianlah keadaan umat bila tidak bersatu. Umat akan terus berpecah belah dalam berbagai hal, termasuk dalam perkara ibadah. Bila keadaan ini terus berlangsung, bagaimana mungkin umat Islam akan mampu mewujudkan kerahmatan Islam yang telah dijanjikan Allah? Karena itu, perpecahan ini harus dihentikan. Caranya, umat Islam harus bersungguh-sungguh, dengan segala daya dan upaya masing-masing, untuk berjuang bagi tegaknya Islam secara kafah (menyeluruh). Untuk perjuangan ini, kita dituntut untuk rela berkorban, sebagaimana pelajaran dari peristiwa besar yang selalu diingatkan kepada kita, yaitu kesediaan Nabi Ibrahim as. memenuhi perintah Allah mengorbankan putranya, Ismail as. Keduanya, dengan penuh tawakal menunaikan perintah Allah SWT itu, meski untuk itu mereka harus mengorbankan sesuatu yang paling dicintai. Akhirnya mari kita renungkan firman Allah Swt.:

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kalian demi sesuatu yang dapat memberikan kehidupan kepada kalian”. (QS al-Anfal [8]: 24).

Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.

http://dakwahtangerang.com/shalat-idul-adha-sabtu-atau-minggu/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s