Istirahat Cukup Jelang Armina Bagi Penderita Paru

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Penyakit paru ada yang sifatnya infeksi dan degeneratif. Untuk asma dan enfisema sifatnya degenaratif yaitu penyakit yang timbul karena penuaan. Sedangkan yang sifatnya infeksi adalah penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) seperti bronkitis dan pneumonia.

Jamaah haji yang sebagian besar adalah lanjut usia sangat rentan terhadap penyakit asma. Karena itu untuk menjamin kondisi paru sebelum berangkat ke Tanah Suci harus periksa ke dokter. Jika memang sudah mengidap penyakit ini minta ke dokter pribadi untuk menyediakan obat jikalau asma maupun bronkitis tiba-tiba kambuh. Karena faktor pencetus seperti debu maupun berada di kerumunan banyak jamaah lain yang jumlahnya jutaan tidak bisa dihindari.

Spesialis penyakit paru Rumah Sakit Persahabatan, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan bagi pasien paru sebisa mungkin menghindari faktor-faktor pencetus meski tak mudah. “Misalnya, tidak terlalu sering berjalan-jalan keluar penginapan selain untuk menjalankan ibadah,” ujarnya.

Tjandra mengingatkan, penyakit flu bisa juga menjadi pencetus kambuhnya asma. Terutama bagi jamaah yang sudah mempunyai keluhan sebelumnya. Jamaah yang sudah punya keluhan jangan menunggu merasa sesak nafas baru mengkonsumsi obat yang biasa diminum.

Gejala yang timbul biasanya berupa nafas bunyi dan batuk-batuk. Jika kedua gejala ini sudah muncul meski belum sesak, lebih baik mengkonsumsi obat-obatan asma yang kita bawa.

Jika asma sudah betul-betul datang, di mana nafas sudah mulai sesak, langkah yang harus diambil segera menemui dokter kloter. “Periksakan kondisi asma lebih awal agar tidak bertambah parah,” saran Tjandra.

Untuk penyakit paru akibat infeksi seperti bronkitis dan pneumonia lebih serius dibandingkan asma. Tertular oleh kerumunan jutaan jamaah sangat mungkin terjadi. Yang harus diperhatikan adalah daya tahan tubuh. Jangan terlalu lelah dan capek karena lelah bisa menurunkan daya tahan tubuh untuk melawan kuman yang menyerang tubuh kita. Apalagi jika ada orang yang batuk-batuk di sekitar kita, maka daya tahan tubuh penting agar kita tidak tertular.

Imbauan agar tidak lelah dan capek ini terutama bagi jamaah usia 60 tahun ke atas. Karena kemungkinan mereka tertular dan juga terpicu lebih besar dibanding usia di bawah mereka.

Sebentar lagi jamaah juga akan menjalankan ibadah wukuf di Arafah dan Mina (Armina). Diingatkan bagi penderita paru untuk berisitirahat yang banyak. Tjandra mengatakan shalat tidak harus di Masjidil Haram, bisa dilakukan di masjid dekat penginapan atau di penginapan. “Karena Masjidil Haram sedang penuh-penuhnya, kontak dengan faktor pemicu sangat besar,” kata dia.

Jamaah diminta tidak ngotot melakukan ibadah yang tidak wajib seperti melakukan umrah yang hanya wajib sekali. Karena puncak haji Armina lebih berat. Daya tahan tubuh harus ditingkatkan agar ibadah puncak saat Armina bisa berjalan dengan baik.

Redaktur: Chairul Akhmad
Reporter: Prima Restri
http://www.jurnalhaji.com/2011/11/03/istirahat-cukup-jelang-armina-bagi-penderita-paru/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s