Mengungkap si Silent Killer

Dina Kusumaningrum
Selasa, 7 Februari 2012 – 11:33 wib

DI BANYAK negara, termasuk Indonesia, penyakit jantung koroner adalah pembunuh nomor satu. Penyakit yang terjadi karena penyempitan pembuluh darah koroner ini dipicu oleh banyak faktor. Gaya hidup tak sehat adalah salah satu faktor yang memicu terjadinya penyakit ini.

Selasa kemarin, 31 Januari 2012, komedian dan juga presenter Ade Namnung dikabarkan meninggal dunia karena gagal jantung. Diusianya yang terbilang muda, 34 tahun, kepergian artis bertubuh tambun itu terbilang mendadak.

Tentu, kasus yang dialami artis bernama lengkap Syamsul Effendi itu, mengingatkan pada artis dan juga politikus Demokrat Adjie Massaid yang meninggal usai bermain futsal.

Tim dokter Rumah Sakit (RS) Fatmawati yang menangani Adjie sebelum wafat memastikan, suami dari Angelina Sondkah itu meninggal karena serangan jantung akut.

Derita yang dialami Ade dan Adjie, pernah menimpa selebritis Tanah Air lainnya seperti Benyamin Sueb, Ida Kusumah, Utha Likumahua, Kang Ibing, Dai Kondang Zainuddin MZ, Mama Lauren, juga Wartawan Senior Rosihan Anwar. Bahkan tidak sedikit pejabat dan juga anggota DPR yang meninggal karena serangan jantung.

Sungguh, kasus di atas menunjukkan bahwa serangan jantung tidak pandang bulu. Bukan hanya kalangan orang tua, tetapi fakta menunjukkan banyak orang muda diusia produktif mati karena serangan stroke dan jantung.

Apakah betul penyakit ini menjadi momok yang menakutkan? Meski belum ada data terbaru menunjukkan penyakit ini sekarang tren menyerang anak-anak muda.

Menurut dokter spesialis penyakit jantung RS. Harapan Kita, Dr. Isman Firdaus, kalau dulu mereka yang menderita jantung kisaran umurnya di atas 50an tahun.

“Kalau sekarang kisarannya berumur 30 tahunan ke atas,” kata Dr. Isman Firdaus saat ditemui okezone di ruang kerjanya.

Menurutnya, pergeseran dari tua ke muda terjadi karena perubahan pola hidup, seperti konsumsi makanan, stres, rokok dan minuman keras.

Secara medis, penyebab gagal jantung utamanya biasanya terhambatnya suplai darah ke otot-otot jantung, karena pembuluh-pembuluh darah yang biasanya mengalirkan darah ke otot-otot jantung tersebut tersumbat atau mengeras.

Ini bisa disebabkan oleh karena lemak dan kolesterol, ataupun oleh karena zat-zat kimia seperti penggunaan obat yang berlebihan yang mengandung Phenol Propano Alanin (ppa) dan nikotin. Nah, bila pasiennya terserang, kondisi ini biasanya terjadi mendadak, dan sering disebut gagal jantung.

Pola Makan

Di Indonesia, kata Dr. Isman, kasus demikian jumlahnya cukup mengkhawatirkan. Kebanyakan penderita penyakit jantung itu dari pola makannya yang tidak teratur.

Dia mencontohkan, di lingkungan mahasiswa, rentan sekali menkonsumsi gorengan, makanan ringan ini terjangkau sesuai kantong mahasiswa, selain juga nikmat dikonsumsi.

Tapi jangan salah, justru banyak yang tidak sadar bahwa makanan itu mengandung minyak yang terkadang tidak bersih lagi. Minyak itu bedampak kolesterol. Dan akhirnya akan berakhir jadi penyakit jantung koroner.

Selain itu kasus kematian mendadak akibat penyakit jantung pada usia muda sering terjadi. Khususnya anak muda perkotaan. Faktornya adalah sering mengkonsumsi makanan cepat saji (fast food), merokok dan menkonsumsi alkohol.

Intinya untuk menghindari penyakit jantung itu adalah hindari stress, dan tingkatkan ESQ (Emotional, Spritual, Quantum).

“Zaman sekarang kan bukan seperti zaman dahulu, gaya hidup yang serba instant juga sering menjadi penyebabnya,” jelas Dr. Isman.

Wanita Perokok Rentan

Sebuah penelitian baru mengungkapkan bahwa perokok wanita terutama wanita muda lebih berisiko terkena penyakit jantung dibanding perokok pria pada umunya.

Penelitian ini memperlihatkan sistematis dan analisis dari data yang diterbitkan oleh kelompok penelitian yang memiliki empat database online.

Hal tersebut dilakukan untuk membuat variasi pada penelitian sebelumnya yang sulit menyatakan apakah perbedaan jenis kelamin mempengaruhi peningkatan risiko terkena penyakit jantung.

Seperti dikutip Medikal Xpress.com, penelitian tersebut menemukan 86 kelompok kasus yang terjadi sejak 1 Januari 1966 hingga 31 Desember 2010 dengan menggunakan perbedaan metodologi. Rentang usia yang dilibatkan dalam penelitian ini dari usia 5 sampai 40 tahun.

Data tersebut melibatkan hampir empat juta orang dalam proses penelitiannya dengan menggunakan metode acak pada perbedaan berat badan secara terbalik. Hal ini berguna untuk memberikan para peneliti perkiraan risiko relatif (RR) dan rasio risiko relatif (RRR) pada pria dan wanita.

Salah satu peneliti yaitu, Dr Rachel Huxley dari University of Minnesota dan rekannya Dr Mark Woodward dari John Hopkins University, menemukan bahwa dalam 75 kelompok penelitian, yang melibatkan 2,4 juta orang, berisiko untuk mengidap penyakit jantung koroner.

Ternyata perokok wanita 25 persen lebih berisiko daripada perokok pria. Ini meningkat rata-rata dua persen setiap tahunnya dibanding faktor risiko kardiovaskular lainnya.

Data dari analisis lain mengumpulkan 53 penelitian risiko relatif yang berhubungan dengan tingkat usia. Penelitian ini melibatkan 3,3 juta orang, yang juga menunjukkan risiko penyakit jantung koroner secara signifikan, penelitian ini kembali menunjukan bahwa wanita lebih berisiko daripada laki-laki. Ketika peneliti melihat risiko pada usia yang berbeda, wanita dengan rantang usia 60 sampai 69 tahun merupakan yang paling berisiko.

Studi tersebut dipublikasikan pada situs resmi The Lancet, belum diketahui mengapa terjadi perbedaan yang sangat signifikan terkait tingkat risiko penyakit jantung koroner yang jelas ini terjadi karena perbedaan fisik (seperti tingkat lemak tubuh, yang dikenal dapat menyimpan racun), atau perbedaan perilaku seperti menghirup atau intensitas merokok.

http://suar.okezone.com/read/2012/02/07/283/570929/mengungkap-si-silent-killer-1

PENYAKIT jantung masih menjadi yang terdepan pembunuh nomor wahid di dunia. Datang tiba-tiba dan mematikan, sehingga membuat penyakit ini sulit dideteksi.

Bukan hanya orangtua di atas 40 tahun yang diserang, jantung juga mulai membidik usia-usia muda produktif.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi tahun 2020, negara-negara berkembang seperti Indonesia, bakal mengalami peningkatan jumlah penderita jantung hingga 137 persen sementara negara maju hanya 48 persen.

Tentu ini angka yang mencengangkan, apalagi tertinggi justru di negara miskin dan berkembang. WHO juga mencatat jumlah kematian yang disebabkan oleh jantung sebanyak 17,2 juta per tahunnya.

“Yang mengkhawatirkan angka itu banyak dialami anak-anak muda yang hidup di perkotaan,” kata Ketua Yayasan Jantung Indonesia, Dr. Dewi Andang Joesoef, ditemui okezone di kantornya.

Sebaliknya, mereka yang hidup di desa berumur panjang. Penyakit yang di derita juga tidak aneh-aneh. Jarang ditemukan penyakit jantung atau stroke, paling-paling penyakit kurap, kudis atau panu. “Selain juga masyarakat desa tingkat stresnya rendah,” jelasnya.

Sementara, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tertinggi ada di Provinsi Aceh 12,6 persen, Sumatera Barat 11,3 persen, Gorontalo 11,0 persen, Sulawesi Tengah 9,4 persen dan Nusa Tenggara Timur 6,8 persen.

Data tersebut menyebutkan, Provinsi Jawa Barat paling rendah menderita penyakit jantung. Mengapa demikian, sederhana saja, masyarakat suku sunda itu, kegemarannya mengonsumsi lalapan sayuran dan buah-buahan.

Pesatnya perkembangan penyakit jantung di dunia ini, kata Dr. Dewi Andang disebabkan banyak faktor, mulai dari gaya hidup (life style), pola makan dan juga lingkungan tempat tinggal.

Pertama, kegiatan fisik, kesibukan artis Ade Namnung sempit waktunya untuk berolahraga. Aktivitas fisik dikategorikan “cukup” apabila kegiatan itu diimbangi olahraga cukup.

Kedua, perokok, orang yang perokok berat justru cenderung mudah sekali terkena penyakit jantung. Ada rumusnya, simple saja yakni, SEHAT (Seimbangkan gizi, Enyahkan rokok, Hadapi dan atasi
stress, Awasi tekanan darah, Teratur berolah raga).

Ketiga, tingkat stres, banyaknya pekerjaan yang membebani oleh seseorang bisa membuat stres, bisa jadi faktor utama. Untuk menghindarinya bentengi diri dengan keimanan yang kuat.

Keempat, pola makan, orang yang “sering” makan-minuman manis, asin, berlemak, jeroan, makanan dibakar, panggang, makanan yang diawetkan, minuman berkafein dan bumbu penyedap dianggap sebagai berperilaku konsumsi makanan berisiko.

Obat Mujarab

Sebenarnya hal paling sederhana untuk meminimalisir jumlah korban meninggal akibat jantung, menurut Dr. Dewi Andang adalah dengan berolahraga rutin.

Sekurangnya sepuluh menit dalam satu kegiatan tanpa henti dan secara komulatif 150 menit, jalan sepanjang 3 kilometer setiap harinya.

Yayasan Jantung Indonesia bertekad ikut berperan aktif mengajak masyarakat dalam hal preventif, promotif, kuantitatif dan rehabilitatif.

Tentunya, juga dilakukan pemeriksaan kesehatan, melakukan kegiatan olah raga jantung sehat melalui Klub Jantung Sehat, melakukan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat luas baik dari berbagai media komunikasi, cetak dan elektronika, dan tak kalah penting adalah memberikan bantuan biaya operasi bagi pasien yang tidak mampu, seta mengadakan latihan rehabilitatif untuk ex-penderita.

Artis Tika Panggabean, mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan. Vokalis Projek Pop ini banyak belajar dari yang dialami Ade Namnung (meninggal akibat jantung). Belum lagi, sang ayah juga menderita diabetes dan sudah pernah bypass karena jantung.

“Aku memutuskan untuk mengubah pola hidup sehat, mulai dari mengubah pola makan, selama ini kan aku kalo makan asal aja, semua dimakan,” kata Tika kepada okezone.

Keluarga

Selain itu, kata Ahli penyakit jantung, Prof Dr. Budhi Setyanto SpJP dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) besarnya kasus
penyakit jantung juda disebabkan rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang penyakit jantung dan pembuluh darah.

“Serangan jantung bisa dipicu oleh kegemukan, kadar kolesterol tinggi, diabetes tinggi dan berat badan tidak ideal.Hal ini terjadi akibat dari kurang diperhatikannya pola hidup sehat,” kata Budhi dikutip dari Koran SINDO.

Budi menyarankan siapapun untuk meninggalkan rokok, pola makan tidak sehat,terlalu banyak asupan lemak, kurang makan berserat tinggi yaitu sayuran dan buah-buahan serta rendahnya kegiatan fisik. Dan yang paling penting, kebiasaan sehat tersebut musti rutin dilakoni di dalam rumah oleh seluruh anggota kelurga.

Melalui keluarga, anggotanya bisa melarang untuk merokok di rumah, menyiapkan bahan makanan yang sehat di rumah seperti buah-buahan dan sayuran dan lebih aktif bergerak.

”Kebiasaan gaya hidup sehat harus dilakukan dari lingkup terkecil yakni rumah dengan memastikan asupan makanan yang sehat bagi diri sendiri dan keluarga,” imbuh Budi.

Meski pada umumnya, lanjut Budi, penyakit jantung itu ada dua bagian. Faktor penyebab yang dapat diubah dan faktor penyebab yang tidak diubah.

Faktor penyebab yang tidak dapat diubah adalah faktor keturunan dan jenis kelamin dan faktor yang dapat diubah berkaitan dengan gaya hidup. Kegemukan, hipertensi (darah tinggi), diabetes melitus (kencing manis), kebiasaan merokok, dan kadar lemak darah yang tinggi bisa memicu terjadinya penyakit jantung koroner.

http://suar.okezone.com/read/2012/02/08/283/571971/mengungkap-si-silent-killer-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s