Kematian Akibat DBD Berkurang Tapi Jumlah Kasus Naik Turun

Jakarta, Dibanding tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, angka kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia tahun ini cenderung berkurang. Namun angka kejadian orang tertular penyakit yang diperantarai nyamuk ini selalu naik turun.

Kementerian Kesehatan melalui Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) mengungkap hingga November 2011 telah terjadi 404 kasus kematian akibat DBD di 31 provinsi. Angka ini lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 1.358 kasus di 33 provinsi.

Penurunan ini mengikuti tren yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, yang makin menurun sejak pertama kali kasus DBD di Indonesia ditemukan tahun 1968. Jika diambil persentasenya, tingkat kematian DBD tahun 2011 adalah 0,82 persen sedangkan tahun lalu masih 0,87 persen.

Kasus penularan DBD sebenarnya juga mengalami penurunan dibanding tahun lalu, dari 65,70/100.000 penduduk menjadi 20.86/100.000 penduduk. Namun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, grafiknya tidak selalu turun, melainkan sangat bervariasi kadang tinggi kadang rendah.

“Perlu dipahami bahwa DBD bukan hanya menjadi masalah di Indonesia saja, tetapi juga di seluruh ASEAN dan beberapa negara yang lain. Bukan Indonesia saja yang naik turun,” kara Dirjen P2PL, Prof Tjandra Yoga Aditama dalam jumpa pers di Kemenkes, Jumat (23/12/2011).

Data November 2011 menunjukkan, 5 provinsi dengan Insiden Rate (IR) atau angka penularan paling tinggi sepanjang tahun 2011 adalah sebagai berikut.

1. Bali (81,08 kasus/100.000 penduduk)
2. DKI Jakarta (72,24 kasus/100.000 penduduk)
3. Kepulauan Riau (49,70 kasus/100.000 penduduk)
4. Sulawesi Tengah (47,37 kasus/100.000 penduduk)
5. NAD (45,81 kasus/100.000 penduduk)

Selain itu, sepanjang tahun 2011 juga tercatat 4 provinsi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD yakni Sumatera Utara, Riau, Jambi dan Maluku. KLB ditetapkan jika muncul kasus yang sebelumnya tidak ada, atau terjadi peningkatan kasus sebanyak 2 kali atau lebih dalam periode 1 bulan.

Upaya yang dilakukan Kemenkes antara lain dengan meningkatkan sosialisasi Program 3M-Plus yang terdiri atas menguras, menutup dan mengubur tempat-tempat yang bisa digenangi air. Sebagai tambahannya adalah memelihara ikan pemakan jentik atau menebar larvasida.
(up/ir)
http://www.detikhealth.com/read/2011/12/23/170059/1798843/763/kematian-akibat-dbd-berkurang-tapi-jumlah-kasus-naik-turun?l1102755

DBD Makin Susah Diberantas Karena Bumi Makin Panas

Jakarta, Perubahan iklim diketahui memiliki pengaruh negatiif terhadap perkembangan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Efek rumah kaca membuat bumi makin panas, nyamuk lebih aktif dan cepat berkembang biak sementara virusnya makin tangguh.

Peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes Kemenkes), Prof Supratman Sukowati membenarkan bahwa perubahan iklim membuat DBD makin sulit diberantas. Perubahan itu mempengaruhi nyamuk, virus maupun manusianya sendiri.

“Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa perubahan iklim memberikan efek negatif bagi perkembangan penyakit demam berdarah. Artinya tantangan ke depan akan semakin besar,” ungkap Prof Supratman dalam jumpa pers di Gedung Kementerian Kesehatan, Jumat (23/12/2011).

Bagi nyamuk, iklim yang semakin panas membuat siklus hidup nyamuk makin pendek sehingga telurnya bisa menjadi nyamuk dewasa hanya dalam 8-10 hari padahal semula butuh waktu belasan hari. Selain itu, perilaku nyamuk juga jadi lebih ganas karena saat panas nyamuk butuh lebih banyak makan darah.

Secara tidak langsung, perubahan iklim juga mempengaruhi perkembangbiakan nyamuk DBD. Cuaca yang tidak menentu dengan curah hujan cenderung tinggi makin meningkatkan risiko terjadinya genangan-genangan air yang merupakan habitat perkembangbiakan nyamuk DBD.

Pertumbuhan virus DBD di dalam tubuh nyamuk juga terpengaruh oleh perubahan iklim. Masih menurut Prof Supratman, cuaca yang cenderung memanas membuat virus lebih cepat menggandakan diri sehingga risiko penularan virus oleh nyamuk ke manusia menjadi lebih besar.

Sedangkan bagi manusianya sendiri, cuaca yang panas akibat perubahan iklim membuat perilaku orang cenderung malas-malasan. Makin banyak bersantai dan tidur-tiduran, maka peluang nyamuk untuk mendarat di kulit dan menghisap darahnya akan semakin banyak.
(up/ir)
http://www.detikhealth.com/read/2011/12/23/173259/1798879/763/dbd-makin-susah-diberantas-karena-bumi-makin-panas?l1102755

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s