Loop Line masih Diwarnai Penolakan

Tuntutan utama penumpang ialah perbaikan sistem perkeretaapian.

PENERAPAN sistem jalur melingkar (loop line) untuk kereta rel listrik (KRL) belum sepenuhnya diterima penumpang. Kemarin, penumpang jurusan Bekasi berunjuk rasa menentang sistem itu.

Aksi demo mereka lakukan di Stasiun Manggarai, Jakarta Pusat. Para penumpang yang tergabung dalam KRL Mania Bekasi menolak loop line karena sistem itu dinilai semakin menyengsarakan mereka.

Sambil membentangkan poster bertuliskan ‘Orang Bekasi bukan Binatang, Kami Perlu Kenyamanan’, mereka menuding PT KAI paling bertanggung jawab terhadap buruknya kenyamanan perjalanan dengan KRL.

Bersama KRL Mania lainnya, mereka juga memadati meja di depan kantor Kepala Stasiun Manggarai untuk membubuhkan tanda tangan penolakan loop line. “Dari Tanah Abang ke Bekasi kenapa dihapuskan? Sementara ke Bogor masih ada. Jelas merugikan kalau begini terus!” protes Asnaeni, 48, salah satu pengunjuk rasa.

Menurut mereka, dengan loop line, ketidaknyamanan kian parah, apalagi bagi penumpang perempuan. “Dulu kan ada dua kereta dari Bekasi kalau pagi, sekarang jadi satu. Banyak yang kehausan, tergencet,” cetus Anita, 45, yang setiap hari menggunakan KRL Bekasi-Jakarta.

Sistem jalur melingkar tersebut, imbuh dia, memaksanya mengubah jadwal hidup. Ia harus bangun lebih pagi untuk bisa naik kereta menuju Jakarta. Cerita senada dituturkan Dina yang kerap naik KRL dari Stasiun Klender Baru menuju Jatinegara.

Dina yang sedang hamil delapan bulan bahkan terpaksa meminta izin khusus dari atasannya di kantor. “Awalnya saya bisa tiba di kantor pukul 08.15 WIB. Setelah loop line, saya baru tiba sekitar pukul 09.00 WIB, padahal jam masuk kantor 08.30 WIB.”

Dalam aksi itu diperoleh 254 tanda tangan dari penumpang KRL Bekasi. “Kami terima aksi pengumpulan tanda tangan ini dan akan kami sampaikan ke atasan untuk menjadi bahan pertimbangan,” ucap Manajer Senior Keamanan Daop I PT KAI Akhmad Sujadi.

Ketua KRL Mania Agam Faturochman menyatakan unjuk rasa dan penandatanganan petisi dilakukan untuk menunjukkan bahwa penumpang KRL Bekasi paling dirugikan oleh sistem loop line. Namun, tegasnya, tuntutan utama yang hendak disampaikan ialah perbaikan sistem perkeretaapian.
“Pokoknya perbaiki dulu gangguan yang sering terjadi, misalnya sinyal dan wesel. Kalau itu sudah bisa, sistem apa pun dapat berjalan bagus. Penambahan armada juga bisa langsung diterapkan,” kata Agam.

Pernyataan Agam tak mengada-ada. Kemarin sekitar pukul 18.00 WIB, lagi-lagi perjalanan kereta terhambat karena kabel listrik aliran atas di Stasiun Tanjung Barat putus. Seluruh KRL menuju Bogor pun lumpuh.

Kejadian itu langsung berimbas ke semua stasiun. Di Tanah Abang, penumpang tujuan Bogor murka lantaran terjebak berjam-jam di KRL commuter line. Hal yang sama terjadi di Stasiun Manggarai, bahkan banyak calon penumpang yang mengembalikan tiket.(Vni/X-16)

Nesty Trioka Pamungkas, nesty@mediaindonesia.com
http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2011/12/07/281946/35/5/Loop_Line_masih_Diwarnai_Penolakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s