Anas…Pujaan Polisi

ANAS Urbaningrum memperlihatkan privilese sebagai elite. Ia melaporkan kasus pencemaran nama baiknya di kepolisian Jakarta, tetapi meminta polisi memeriksanya di Blitar, Jawa Timur. Polisi pun memberi seluruh keistimewaan yang dimungkinkan itu.

Polisi beralasan memeriksa saksi korban bisa dilakukan di mana saja. Di sinilah letak soalnya. Kalau pelapor bisa diperiksa di mana saja, itu keistimewaan yang perlu disosialisasikan. Padahal, dalam praktik laporan ke polisi bisa mengendap berbulan-bulan tanpa tindak lanjut.

Mabes Polri katanya mengirim empat penyidik dari Bareskrim untuk memeriksa Ketua Umum Partai Demokrat yang merasa nama baiknya dicemarkan Muhammad Nazaruddin, bendahara partai yang sama yang telah dipecat dan buron. Bisakah polisi memperlihatkan perlakuan sama ketika seorang pelapor dari Aceh meminta diperiksa di Jayapura?

Polisi tak kuasa melawan godaan kooptasi elitis. Etika hanya tumbuh subur dalam masyarakat dengan para pemegang otoritas mengetahui bahwa tidak semua yang dibolehkan patut dilakukan. Kepatutan hanya hidup dalam diri dan pikiran yang memiliki sensitivitas.

Polisi tahu Anas bisa diperiksa di mana saja, tetapi sensitivitas terhadap kepatutan seharusnya mampu mencegah godaan itu. Anas juga tahu tidak ada larangan meminta polisi Jakarta memeriksanya di Blitar, tapi sensitivitas terhadap rasa keadilan mestinya mencegahnya meminta itu.

Jika mereka yang memiliki jabatan, uang, dan kuasa dipuja polisi dengan memberi privilese, dalam sisi apakah polisi memperlihatkan kesetaraan warga di mata hukum? Tidaklah dosa bila Anas yang terkenal bersahaja memberi contoh tentang kesetaraan di depan hukum.

Setelah menjadi Ketua Umum Demokrat, Anas dengan segala kemampuan telah membuat polisi memujanya. Pemeriksaan dia di Blitar merupakan contoh pemujaan itu.

Komisi Pemberantasan Korupsi juga sedang memperlihatkan pemujaan terhadap Anas. Terlepas dari bohong atau tidak tudingan Nazaruddin, nama Anas disebut paling kencang. Namun, sampai detik ini Anas tidak (atau belum) dipanggil KPK.

Dengan kadar ‘kebohongan’ yang sama oleh Nazaruddin, KPK membentuk Komisi Etik untuk memeriksa para pemimpin mereka. Namun, kita tidak mendengar Dewan Kehormatan Demokrat memeriksa Anas dan petinggi Demokrat lain yang dituduh Nazaruddin.

Sistem kita telah terpenjara oleh pemujaan terhadap elite. Itulah yang diperlihatkan dengan gamblang oleh polisi terhadap Anas Urbaningrum.
http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2011/07/07/246032/70/13/Anas…Pujaan_Polisi_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s