Penyakit Jantung Koroner Pembunuh No 1 di Dunia

Konsumsi Serat untuk Jantung Sehat

PENYAKIT jantung koroner masih menjadi pembunuh manusia nomor satu di dunia. Salah satu pencegahan yang paling mudah dan efektif adalah mengubah pola makan dengan mengonsumsi makanan berserat.

Data dari World Health Statistic 2009 yang dilansir oleh Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) menyebutkan, penyakit jantung koroner (PJK) dan stroke masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Temuan ini juga selaras dengan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia 2007 yang menyatakan bahwa PJK dan stroke merupakan pemicu nomor satu kematian di Indonesia.

Ironisnya, PJK kini tidak memandang usia, yang muda maupun yang tua dapat terkena penyakit ini.Beberapa ahli bahkan menyatakan bahwa penyakit ini kini sudah menjadi epidemi global tanpa mengenal perbedaan jenis kelamin, batas geografis dan sosial ekonomi.

Gaya hidup yang tidak seimbang serta pola makan yang salah disinyalir menjadi salah satu penyebab teratas timbulnya PJK. Hal ini terutama dilakoni masyarakat di kota-kota besar yang terus mengalami stres akibat pekerjaan yang selalu diburu-buru dan tidak mengenal waktu.

“Perubahan gaya hidup yang dialami sebagian masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di kota besar, di mana pola makan rendah serat dan tinggi lemak menjadi konsumsi sehari-hari, telah memicu meningkatnya kadar kolesterol jahat,” kata Kepala Instalasi Gizi RSUP Fatmawati, Jakarta, dr Pauline Endang Praptini MS Sp GK kepada SINDO saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Pauline menjelaskan, PJK adalah pengapuran pembuluh darah koroner akibat timbunan kolesterol atau aterosklerosis. Pengapuran tersebut menyebabkan pembuluh darah yang semula elastis menjadi kaku sehingga mudah robek. Aterosklerosis, lanjut dia, sebenarnya merupakan proses alami yang terjadi pada setiap manusia usai menyantap berbagai jenis makanan.

Pengapuran ini sejatinya akan terjadi saat seseorang telah memasuki usia lanjut. Namun, sejumlah faktor risiko di antaranya peningkatan kadar kolesterol, penyakit diabetes, hipertensi,merokok, serta obesitas dapat mempercepat terjadinya aterosklerosis yang berujung pada serangan jantung.

“Akhirnya yang terjadi dewasa ini, yang terkena PJK bukan lagi orang-orang tua, tetapi mengarah ke usia muda mulai 30 tahun. Ini tentu menjadi perhatian berbagai pihak mengapa ini bisa sampai terjadi,” tutur Pauline.

Karena itu, terang dia, masyarakat sudah harus disadarkan pentingnya pola hidup yang sehat untuk mencegah terkena PJK sejak dini. Pola hidup yang sehat sebenarnya bukan hanya pola makan yang baik, tetapi juga perubahan gaya hidup dengan berpikir dan beraktivitas yang sehat, termasuk mengelola stres dengan tepat.

“Jika seseorang memiliki manajemen stres yang kurang baik, tentu akan berdampak pada kesehatannya. Misalnya menjadi pengidap hipertensi,” ujar Pauline.

Terkait pola makan yang sehat, Pauline meminta masyarakat untuk mengonsumsi makanan sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Penerapan pola makan yang sehat ini musti diterapkan segera mengingat kondisi saat ini di mana kebiasaan sehari-hari dan rutinitas pekerjaan yang menuntutAnda untuk“menjauh”dari hidangan sehat.

“Mengonsumsi makanan berserat dalam kadar yang cukup dan secara teratur ternyata dapat berdampak bagus bagi tubuh dengan mengurangi kadar kolesterol hingga 15 persen. Dan tentu tanpa minum obat,” kata Pauline.

Temuan ini, ucap Pauline, dia dapatkan dalam sebuah penelitian yang dilakukannya sendiri pada 1999. Partisipannya berjumlah 30 orang karyawan pria dari sebuah perusahaan swasta berusia 40 tahun ke atas yang memiliki kadar kolesterol tinggi.

Selama enam minggu, para peserta studi diwajibkan mengonsumsi makanan berserat jenis oatmeal sebanyak 75 gram setiap harinya dan dilarang meminum obat-obatan atau suplemen penurun kolesterol.

Makanan dari oatmeal yang disediakan berbentuk kue atau camilan yang dibagikan pada pagi dan sore hari. Partisipan juga diminta mencatat apa saja makanan yang dikonsumsi setiap harinya dari bangun pagi hingga tidur lagi. Hasilnya, kadar kolesterol para peserta penelitian menurun hingga 15 persen tanpa tereduksi dengan apa yang mereka makan sehari-hari.

Pauline menjelaskan, oatmeal bekerja seperti “busa kecil” yang menyerap dan membawa keluar kolesterol dari dalam tubuh. Serat larut yang terdapat dalam oatmeal yaitu beta glucan, membantu mengendalikan kolesterol di darah dengan mengikat beberapa kolesterol di dalam saluran pencernaan.

Atas dasar fakta-fakta tersebut, DDB Indonesia dan Maxus Indonesia memprakarsai “Gerakan Sayangi Jantungmu”, sebuah kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya PJK. Program ini lantas mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk Pepsi Co Indonesia, pemasar produk Quaker Oats. (SINDO/) (nsa)
http://m.okezone.com/read/2011/06/30/195/474134

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s