Tarif Tol Naik 250 Persen

Kramatjati, Warta Kota

GERBANG Tol (GT) Cikarang Utama di Km 29.200 Jalan tol Jakarta-Cikampek akan dioperasikan mulai 2 Maret 2011 pukul 00.00. Gerbang tol yang merupakan gerbang pengganti dari GT Pondokgede Timur Utama (Jatibening) ini diharapkan dapat mengurai kemacetan yang sebelumnya sering terjadi di gerbang tol tersebut. Perubahan GT ini ternyata juga berpengaruh pada kenaikan tarif tol hingga .

Direktur Operasi PT Jasa Marga Adityawarman mengatakan itu di Kantor Pusat PT Jasa Marga, Jalan Dukuh VI, Kramatjati, Jakarta Timur, Jumat (25/4), Jumat (25/2). Kepastian pengoperasian GT Cikarang Utama itu menyusul keluarnya Keputusan Menteri Pekerjaan Umum (KM) No.49/KPTS/M/2011 tentang Penetapan Perubahan Sistem Pengumpulan Tol pada Seksi Jakarta Interchange Cikarang Barat dan Tarif Tol pada ruas Jalan Tol Jakarta-Cikampek.

“Berdasarkan Keputusan Menteri PU tertanggal 23 Februari 2011 itu, pengoperasian GT Cikarang Utama diberlakukan pada 2 Maret pukul 00.00,” kata Adityawarman.

Dijelaskan, dengan beroperasinya GT Cikarang Utama ini maka GT Pondokgede Timur atau yang lebih dikenal dengan GT Jatibenung akan dihapus dan diganti oleh GT Cikarang Utama.

Selain itu, menurut Adityawarman, GT Padalarang Barat juga otomatis dibongkar. Hal ini karena terdapat perubahan sistem, yakni dari arah Cawang ke Cikarang di Jalan Tol Jakarta-Cikampek berubah menjadi sistem terbuka atau tarif flat. Tapi, dari GT Cikarang Utama hingga Cikampek dan Jalan Tol Cipularang hingga Cileunyi serta sebaliknya menggunakan sistem tertutup dengan tarif tol sesuai asal gerbang atau jarak tempuh.

Untuk ruas tol dari arah Jakarta menuju Bekasi Barat, Bekasi Timur, Tambun, Cibitung, dan Cikarang atau sebaliknya yang sebelumnya menggunakan sistem tertutup berubah menjadi terbuka dan tarifnya sama atau flat, yakni Rp 3.500.

“Jadi di ruas ini masih bisa cari jalan alternatif untuk tidak menggunakan jalan tol karena tarifnya mengalami kenaikan karena perubahan sistem. Misalnya, dari Bekasi Barat ke Bekasi Timur yang semula tarifnya Rp 1.000 menjadi Rp 3.500,” katanya.
Kenaikan dari Rp 1.000 menjadi Rp 3.500 itu sama dengan naik 250 persen. Berdasarkan catatan Warta Kota, kenaikan tarif tol sebelumnya juga terjadi dengan pemindahan GT Tol Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ke GT Cimanggis, Kamis (13/1).

Sekadar contoh, sebelum diberlakukan GT Cimanggis, pengendara dari Bogor-Cibubur cukup membayar Rp 4.500 (gol I). Tetapi setelah ada GT Cimanggis, pengendara membayar Rp 6.500, rinciannya Rp 4.500 dari Bogor-Cimanggis dan Rp 2.000 dari Cimanggis-Ciburbur.

Adityawarman mengakui adanya pemberlakukan tarif baru dengan perpindahan GT ini. Karena menggunakan sistem terbuka atau flat, maka pengendara yang berjarak tempuh relatif pendek tarifnya akan naik. “Misalnya dari arah cawang menuju Cikunir yang biasanya Rp 1.500, setelah relokasi GT Pondok Gede Timur ke GT Cikarang akan diberlakukan tarif flat, yakni Rp 3.500, baik yang akan menuju Cikunir, Bekasi Barat, Bekasi Timur, Tambun, Cibitung atau Cikarang Barat,” katanya.
Tapi, tarif jarak jauh tarifnya justru turun. Misalnya dari arah Cawang ke Cikarang yang sebelumnya dengan sistem tertutup tarifnya Rp 6.000 (gol I), maka dengan sistem terbuka tarifnya menjadi Rp 3.500.

“Karenanya untuk kendaraan berjarak tempuh pendek kami menghimbau menggunakan jasa nontol agar pengguna jasa tidak terjebak dengan tarif baru yang diberlakukan,” ujarnya. Kendaraan dari arah Cileunyi, Bandung, menuju arah Jakarta, jika tarif sebelumnya Rp 44.500, mulai 2 Maret 2011 menjadi Rp 43.500.

Kurangi macet

Adityawarman menegaskan, dengan berlakunya sistem baru dan pengoperasian GT Cikarang Utama, diharapkan mereduksi kepadatan (kemacetan) kendaraan yang biasanya terpusat di satu gerbang yaitu GT Pondok Gede Timur Utama.

“Kendaraan dari Cikarang, Cibitung, Tambun, Bekasi Timur, Bekasi Barat yang akan menuju Tol Lingkar Luar (JORR) akan dilayani di asal gerbang masing-masing sebesar Rp 3.500 dan untuk masuk ke JORR bayar lagi dan tak ada perubahan tarif,” katanya.

Menurut Adityawarman, GT Pondokgede Timur selama ini memiliki 12 gardu dengan lalu lintas harian rata-rata 60.000. Transaksinya dari Jakarta-Cikampek sebanyak 350.000 kendaraan per hari.

GT Cikarang Utama ini memiliki 32 gardu tol yang terdiri atas 11 gardu masuk (entrance) dan 21 gardu keluar (exit). Berbeda dengan gardu entrance di gerbang tol lainnya, seluruh gardu entrance di gerbang tol ini merupakan Gardu Tol Otomatis (GTO) yang dioperasikan tanpa petugas (seperti di beberapa gardu tol entrance di GT Pasteur).

Dengan demikian, pengguna jalan tol yang akan menuju Cikampek dan Bandung, ketika memasuki gardu tol ini tinggal mengambil kartu tanda masuk di sebuah mesin tol. Di gardu keluar masih ada petugas untuk melayani pembayaran tol.

“Pintu masuk di GT Cikarang Utama menggunakan Gardu Tol Otomatis. Pengguna tinggal ambil Kartu Tanda Masuk (KTM) elektronik sesuai golongan kendaraan dan membayar di pintu keluar,” katanya.

Sebagaimana yang sering terjadi selama ini, di GT Pondokgede Timur Utama sering terjadi antrean kendaraan baik yang akan menuju Jakarta atau yang akan meninggalkan Jakarta. Sebab, gerbang tol ini melayani kendaraan yang akan ke arah JORR, Bekasi Barat, Bekasi Timur, sampai Bandung.

Dengan dioperasikannya GT Cikarang, diharapkan akan dapat mengurangi kemacetan karena kendaraan yang akan menuju JORR, Bekasi Barat, sampai Cikarang atau sebaliknya dilayani di gerbang tol masing-masing. Sedangkan GT Cikarang Utama hanya melayani kendaraan yang akan menuju Karawang, Cikampek, Bandung Cileunyi atau sebaliknya.

GT Cikarang Utama yang dibangun di atas lahan seluas 6 hektar ini terletak di daerah Cikarang Barat, Bekasi. Gerbang tol ini dibangun tahun 2009 dengan biaya Rp 80 miliar. Sebagai wujud kepedulian Jasa Marga terhadap optimalisasi energi yang ramah lingkungan, untuk menerangi gerbang tol ini, Jasa Marga menggunakan lampu LED yang mampu menghemat energi sampai dengan 60 persen.

Penggunaan lampu LED ini nantinya akan diterapkan di gerbang-gerbang tol atau beberapa ruas jalan tol lainnya guna penghematan energi. “Ini wujud kepedulian Jasa Marga dalam menjaga lingkungan,” kata Adityawarman. (Budi SL Malau)
http://www.wartakota.co.id/mobile/detil/40421

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s