Sejengkal, Jarak Antara Hipertensi dan Gagal Ginjal

Predikat hipertensi sebagai penyakit pembunuh diam-diam (the silent killer) ternyata memang demikian adanya. Seringkali seseorang baru sadar dengan predikat seperti itu ketika hipertensi sudah telanjur melekat menjadi penyakit. Ini bisa terjadi karena hipertensi seringkali tanpa gejala. Sementara si penderita kerap merasa sehat-sehat saja.

Seringkali kali pula terdengar hipertensi adalah penyakit para orang tua. Anggapan ini keliru. Dr Pudji Rahardjo SpPD KGH dokter spesialis penyakit dalam dari FKUI mengingatkan hipertensi tak mengenal usia. Menurut Health Survei for England 2002 yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan negara tersebut, persentase penderita hipertensi pada usia 16-24 tahun memang masih kecil yaitu antara 10-20 persen. Persentase hipertensi tinggi pada usia di atas 75 tahun yaitu antara 70-80 persen. Namun semakin bertambah usia, persentase penyakit hipertensi cenderung mengalami peningkatan.

Dengan begitu hipertensi bisa diderita anak muda sampai orang tua. Bila seseorang tekanan darah sistolik dan diastoliknya lebih di atas batas normal 140/80 mmHg, sudah terkena hipertensi. Meski tekanan darah seseorang masih dibawah definisi normal tersebut tidak secara otomatis terbebas dari kemungkinan terkena hipertensi. Tetapi dianggap berpotensi terkena hipertensi jika ditemukan beberapa faktor risiko mengalami kegemukan atau karena kolesterol. Pada kelompok ini tetap perlu diberikan pengobatan untuk mengatasi hipertensi.

Saat ini hipertensi diderita oleh lebih dari 800 juta orang di seluruh dunia. Sebanyak 10-30 persen di antara populasi orang dewasa pada hampir semua negara terkena hipertensi. Dari jumlah tersebut 50-60 persen penduduk saat ini dapat dikategorikan sebagai mayoritas utama yang status kesehatannya akan menjadi lebih baik bila dapat mengontrol tekanan darahnya.

Dampak hipertensi pun tak main-main. Anggaran kesehatan bisa membesar karena hipertensi sangat besar faktornya sebagai pemicu utama stroke, serangan jantung, gagal jantung dan gagal ginjal. Data hingga April 2006 jumlah penderita ginjal di Indonesia mencapai 150. ribu orang sementara yang tetap membutuhkan terapi agar ginjalnya tetap berfungsi sebanyak tiga ribu orang.

Penyebab hipertensi 90-95 persen tidak diketahui, kata Dr Pudji dalam kesempatan media edukasi bertajuk Lingkaran Kausalitas antara Hipertensi dan Penyakit Ginjal di Jakarta, Rabu (29/8). Menurut Pudji 5-10 persen hipertensi disebabkan karena penyakit lain seperti gangguan ginjal serta gangguan pembuluh darah.

Sebelum dunia kedokteran mengalami kemajuan pesat, pengobatan hipertensi menunggu pasien pusing terlebih dahulu karena hipertensi tanpa gejala. Tetapi sekarang bila ditemukan tekanan darah lebih dari normal harus segera mendapat pengobatan. Target tekanan darah diturunkan hingga ke normal 140/80 mmHg. Pengobatan hipertensi bisa menurunkan risiko gagal ginjal, kata Pudji.

Pudji menjelaskan dalam darah antara lain dialiri asupan-asupan lemak ke sel-sel pembuluh darah. Selanjutnya dinding pembuluh darah yang makin tebal karena lemak tersebut bisa mempersempit pembuluh darah. Jika ini terjadi pada ginjal, tentu akan terjadi kerusakan ginjal yang berakibat kepada penyakit gagal ginjal.

Perumpamaan jarak antara hipertensi dengan gagal ginjal hanya sejengkal, bisa jadi ada kebenarannya. Pasalnya hipertensi pada dasarnya merusak pembuluh darah. Jika pembuluh darahnya ada pada ginjal, tentu ginjalnya yang mengalami kerusakan. Belum lagi salah satu kerja ginjal adalah memproduksi enzim angio tension. Selanjutnya diubah menjadi angio tension II yang menyebabkan pembuluh darah mengkerut atau menjadi keras. Pada saat seperti inilah terjadi hipertensi, ungkap Pudji. Ibaratnya, lanjut Pudji, antara hipertensi dan gagal ginjal seperti lingkaran setan. Hipertensi bisa berakibat gagal ginjal. Sedangkan bila sudah menderita gagal ginjal sudah pasti terkena hipertensi.

Naiknya tekanan darah di atas ambang batas normal bisa merupakan salah satu gejala munculnya penyakit pada ginjal. Beberapa gejala-gejala lainnya seperti berkurangnya jumlah urine atau sulit berkemih, edema (penimbunan cairan) dan meningkatnya frekuensi berkemih terutama pada malam hari.

Studi-studi dalam pemahaman penyakit ginjal menyatakan gangguan fungsi ginjal akibat hipertensi bisa berupa penyakit ginjal akut, ginjal kronis hingga kepada gagal ginjal atau ketika ginjal tak lagi mampu menjalankan sebagian atau seluruh fungsinya. Hipertensi disebut-sebut sebagai momok nomor dua kejadian gagal ginjal tahap akhir setelah penyakit diabetes mellitus.

Pada saat sudah dinyatakan gagal ginjal tahap akhir, maka pasien harus menjalankan hemodialisis (cuci darah) seumur hidupnya. Jalan lain tentu adalah transplantasi ginjal yang membutuhkan dana demikian besar. Bahkan hipertensi pada gilirannya menjadi salah satu faktor risiko meningkatnya kematian pada pasien hemodialisis.

Tata Laksana

Pengobatan suatu penyakit pada manusia sudah pasti tak bisa lepas dari penatalaksanaan dan cara pengobatan. Dalam hal ini, menurut Dr Pudji, para dokter yang menangani hipertensi harus hati-hati dalam memberikan obat kepada pasien. Menurut dia hampir semua jenis obat untuk mengatasi hipertensi bisa menimbulkan kontra indikasi. Ia menyebut bila pasien tergolong usia lanjut dan perokok serta napasnya pun mulai sesak, dokter harus cermat memberikan obat hipertensi dari jenis beta blocker.

Jadi sebenarnya tak ada obat yang aman untuk semua orang, tuturnya. Karena itu dokter harus pintar-pintar mengkombinasi jenis obat yang ada untuk mengatasi hipertensi. Ia melanjutkan pilihan obatnya adalah yang paling sedikit kontraindikasinya secara medis.

Dari berbagai literatur kedokteran jenis obat hipertensi memang ada beberapa macam. Beberapa di antara dari jenis diuretik, beta blocker, antagonis kalsium, ACE inhibitor, Alfa blocker, Angiotensin II antagonis serta Central agonis dan vasodilator.

Dari jenis tersebut, kata Pudji, dari macam amlodipine based regimen merupakan penemuan terbaru. Jenis obat tersebut kontraindikasinya paling sedikit. Karena yang terbaru mestinya memang lebih baik lagi pula efek sampingnya pun kurang sehingga mungkin menjadi pilihan,katanya. Menurut dia pasien yang memakai kartu Askes pun sudah dapat mengakses obat hipertensi amlodipine.

Menurut Pudji pada hasil studi Ascot BPLA dengan melibatkan 19 ribu pasien hipertensi risiko tinggi menyatakan amlodipine based regimen menurunkan kejadian kerusakan ginjal hingga 15 persen dibandingkan dengan atenolol based regimen.

Habis Masa Paten

Sayangnya pada April 2007, jenis obat amlodipine tersebut memasuki masa akhir paten. Dengan demikian obat copy-nya atau generiknya bisa diproduksi oleh perusahaan farmasi lainnya. Menurut Dr Irawan Rustandi, medical director PT Pfizer Indonesia, amlodipine besylate sudah 15 tahun menjadi obat untuk mengatasi hipertensi. Pfizer merupakan pihak originator obat tersebut.

Menurut Irawan amlodipine ditemukan oleh Pfizer pada 1983. Senyawa yang ditemukan adalah amlodipine maleate untuk kegunaan toxicology. Tetapi riset lanjutan terpaksa dihentikan pada 1985 karena secara kimiawi maleate tak stabil. Disamping itu terdapat lupa laporan-laporan yang menyebutkan maleate bisa mengakibatkan keracunan pada ginjal.

Selanjutnya pada 1987, Pfizer menemukan garam besylate sehingga senyawa maleate diubah ke garam besylate. Dr Irawan mengatakan tahun 1990 riset dianggap selesai. Sedangkan di Indonesia amlodipine besylate mulai dipasarkan di Indonesia antara tahun 1992-1993.

Pihak Pfizer mendaftarkan hak paten amlodipine tersebut kepada Dirjen HAKI Departemen Hukum dan Perundang-undangan pada 1987 namun baru disetujui pada 10 November 1995. Masa paten obat tersebut selanjutnya berakhir pada 3 April 2007.

Dengan berakhirnya masa paten tersebut, Irawan mengkhawatirkan peredaran copy obat tersebut menjadi generik. Saat ini menurut dia sudah ada 13 perusahaan yang menjadi amlodipine sebagai me too drug di Indonesia. Sayangnya beberapa perusahaan farmasi tersebut cenderung langsung membeli bahan baku obat tersebut dari India, China atau Eropa Timur. Selanjutnya bahan baku itu langsung dijadikan tablet atau kapsul dan langsung dipasarkan.

Dia berpendapat mestinya ada proses approval antara originator dan pembuat obat generiknya. Ia menyebut keharusan adanya kesamaan zat aktif, serta kesamaan cara pemakaian dan juga kesamaan bioequavalency. Menurutnya uji bioequavalency misalnya harus ditentukan jumlah kandungan zat aktif dalam darah antara obat originator dan me too drug-nya harus sama.

Bahkan menurutnya ada sisi lain pengalihan dari originator ke obat generik yaitu kemungkinan masuknya senyawa kimia lain di luar zat aktif. Tujuan pengikutsertaan senyawa lain tersebut adalah agar bisa dibuat kapsul atau tabletnya. Hal itu bisa terjadi karena tidak didukung total kualitas yang terintegrasi. (Mangku)
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=180956

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s