Hipertensi Tak Terkontrol Merusak Organ Tubuh

Liliana, perempuan karier paruh baya ini mengaku dalam satu tahun terakhir ini sering menderita sakit kepala hebat. Tuntutan pekerjaannya yang tinggi dan dikejar-kejar deadline membuatnya kerap stress. Ujung-ujungnya tekanan darahnya langsung melonjak menjadi 180/110 mmHg. “Kepala rasanya mau pecah,” katanya dengan suara lirih.

Kondisi itu sebenarnya bisa dicegah kalau saja Liliana sadar akan penyakitnya dan rutin mengontrol tekanan darahnya. Namun, ia sering kali mengabaikan tekanan darahnya, bahkan dia mengaku hanya mengkonsumsi obat antihipertensi bila dirasa perlu.

“Padahal, bila sudah mengidap tekanan darah tinggi, pasien harus mengkonsumsi obat antihipertensi terus-menerus,” kata Dr dr Suharjono, SpPD-KGH, KGer, konsultan nefrologi hipertensi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, di Jakarta, belum lama ini.

Karena, lanjut Suharjono, tekanan darah yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan peningkatan risiko serangan penyakit kardiovaskular tiga hingga empat kali, baik pada pria maupun wanita. Jika berkepanjangan, hipertensi bisa merusak pembuluh darah yang ada di sebagian besar tubuh, di antaranya menyerang beberapa organ seperti ginjal, otak, dan mata, yang akan mengalami kerusakan.

“Gagal jantung, infark miokard, gagal ginjal, stroke, dan gangguan penglihatan adalah konsekuensi yang umum dari hipertensi,” ucapnya.

Pada organ ginjal, tekanan darah yang tinggi dapat meningkatkan progresivitas proteinuria–adanya protein dalam urine. Protein dalam darah merupakan indikator terjadinya gangguan fungsi ginjal, karena ginjal tidak mampu menyaring protein agar tidak keluar ke urine. Sebaliknya, bila tekanan darah terkontrol baik, bisa mengurangi pengeluaran protein dalam urine dan memperlambat penurunan fungsi ginjal.

Selain itu, hipertensi yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah halus dalam ginjal sehingga mengurangi kemampuan ginjal untuk menyaring darah dengan baik. Akibatnya, dalam jangka panjang bisa mengakibatkan kerusakan ginjal yang lebih parah dan berakhir menjadi gagal ginjal.

Menurut dr Suharjono, seringkali pasien tidak memperhatikan gejala-gejala kecil hingga penyakit ginjal kronik berkembang ke stadium yang lebih lanjut. Gejala-gejala yang mungkin timbul antara lain merasa lelah, kurang berenergi, menurunnya nafsu makan, sulit tidur, kram otot pada malam hari, pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki, kulit gatal dan kering, bengkak seputar mata (pada pagi hari).

Hipertensi juga meningkatkan kerja jantung. Beban kerja yang berkepanjangan akhirnya akan menyebabkan pembesaran jantung dan meningkatkan risiko gagal jantung dan serangan jantung. Hipertensi juga dapat merusak pembuluh darah di retina dan menimbulkan gangguan penglihatan atau buta.

Minum Obat

Untuk itu, lanjut dr Suharjono, tingkat kepatuhan yang tinggi terhadap pengobatan hipertensi akan meningkatkan efektivitas pengobatan serta mencegah dampak buruk dari penyakit ini. Bukan itu saja, kepatuhan minum obat dalam jangka panjang mampu menurunkan morbiditas dan mortalitas penderitanya.

“Dengan patuh minum obat antihipertensi, maka dapat mencegah kerusakan organ dan menurunkan risiko kerusakan organ yang dapat memicu terjadinya kematian,” katanya.

Menurut Suhardjono, salah satu alasan tingkat kepatuhan yang rendah karena dosis yang tidak praktis, harga obat terlalu mahal atau jenis obat sulit didapat. Tapi, sebenarnya, bagi mereka yang sudah mengidap hipertensi, penanganan tahap awal dilakukan dengan modifikasi gaya hidup.

“Pasien diminta menurunkan berat badan, pembatasan asupan garam, diet kolesterol dan lemak jenuh, berolahraga, pembatasan konsumsi alkohol, pembatasan konsumsi kopi, menggunakan teknik relaksasi untuk peredaan stres, tidak merokok, serta menggunakan suplemen potassium, kalsium, dan magnesium,” katanya.

Bila lini pertama tidak berhasil, ditangani dengan pemberian obat antihipertensi. Pemilihan jenis obat ditentukan oleh tingginya tekanan darah, adanya risiko kardiovaskular dan kerusakan organ target. Jenis obat yang digunakan dibedakan menjadi beberapa golongan, yaitu diuretik, beta blocker, calsium channel blocker (CCBs), angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE inhibitor) dan angiotensin II reseptor blocker (ARB).

“Masing-masing golongan ini mempunyai karakteristik dan efek samping yang berbeda,” jelasnya.

Menurut Suharjono, tingkat kepatuhan yang rendah juga sering disebabkan oleh efek samping pengobatan. Misalnya golongan beta blocker memicu pasien mengalami impotensi atau disfungsi ereksi dan golongan diuretik cenderung membuat pasien lemas dan sering buang air kecil.

Obat golongan ACE inhibitor dapat merangsang refleks batuk dan golongan CCB bisa membikin kaki pasien menjadi bengkak.

Namun, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, ditemukan obat antihipertensi dari golongan ARB. Obat golongan ini disinyalir lebih spesifik dampak positif melindungi kardiovaskular. “Dari penelitian terungkap, pasien telah merasa nyaman mengkonsumsi obat tersebut,” ujarnya.

Dijelaskan, hipertensi merupakan suatu kondisi ketika tekanan darah di atas 140/90 mmHg, dengan kategori normal kurang dari 120/80 mmHg. Saat ini diperkirakan lebih dari seperempat jumlah populasi dunia menderita hipertensi. Berdasarkan Data Lancet, jumlah penderita hipertensi di seluruh dunia terus meningkat. Di India, misalnya, mencapai 60,4 juta orang pada 2002 dan diperkirakan 107,3 juta orang pada 2025. Di China, 98,5 juta orang dan bakal jadi 151,7 juta orang pada 2025.

Di bagian lain di Asia, tercatat 38,4 juta penderita hipertensi pada 2000 dan diprediksi jadi 67,4 juta orang pada 2025. Di Indonesia, mencapai 17-21 persen dari populasi penduduk dan kebanyakan tidak terdeteksi.

Sayangnya, penyakit hipertensi muncul tanpa gejala. Sulitnya mendeteksi tekanan darah tinggi juga menyebabkan pasien cenderung mengalami komplikasi terlebih dulu, sehingga pasien menderita sakit kepala, mengantuk, keletihan, sulit tidur, gemetaran, mimisan, atau penglihatan kabur.

“Hipertensi sulit diketahui bila kita tidak mengukur tekanan darah kita. Atau biasanya ada gejala, tapi itu pun jika sudah komplikasi,” kata Suharjono.

Menurut Badan Kesehatan Dunia, dari 50 persen penderita hipertensi yang terdeteksi, hanya 25 persen yang mendapat pengobatan dan hanya 12,5 persen bisa diobati dengan baik.

Tercatat ada 90 persen atau lebih penderita hipertensi tidak diketahui penyebabnya sehingga hipertensi termasuk penyakit primer. Sisanya, 10 persen atau kurang, adalah penderita hipertensi yang disebabkan penyakit lain seperti ginjal dan beberapa gangguan kelenjar endokrin tubuh. Keadaan ini disebut hipertensi sekunder.

Dr Suharjono menekankan pentingnya komunikasi antara dokter dan pasien. Sehingga setiap timbulnya gejala dapat diketahui dan diobati dengan. Dan, ia juga meyakinkan penderita hipertensi untuk tidak mengkhawatirkan efek samping obat-obatan.

Ditambahkan, pada tahap awal pemberian obat hipertensi dimulai dengan dosis yang rendah. Jika tekanan darah tidak kunjung turun, dosis bisa dinaikkan secara bertahap. Ketika tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg selama satu tahun maka penurunan dosis dan tipe obat antihipertensi sangat dianjurkan.

“Adapun untuk meningkatkan kepatuhan pasien dianjurkan para dokter merencanakan program pengobatan sederhana, jadwal yang sesuai dan idealnya satu hari hanya satu pil saja. Demi kepraktisan,” kata dr Suharjono menandaskan. (Tri Wahyuni)
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=209253

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s