Archive for the ‘Demam Tifoid’ Category

Apa itu Demam Tifoid?

Posted: 05/12/2010 in Demam Tifoid

Masyarakat umum biasanya selalu bertanya apa itu demam tofid (tyfoid fever)?

Demam Tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran.

Di Indonesia terdapat dalam keadaan endemic. Penderita anak yang ditemukan biasanya berumur diatas satu tahun.

Penyebab dari demam tifoid adalah Salmonella typhosa, basil gram nrgatif, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora. Mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen yaiut antigen 0 (somatic, terdiri dari zat kompleks lipopolisakarida) antigen H (flagella) ndan antigen Vi. Dalam serum penderita terdapat zat anti (agglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut.

http://www.infokedokteran.com/info-penyakit/demam-tifoid/apa-itu-demam-tifoid.html

Patogenesis Demam Tifoid

Posted: 05/12/2010 in Demam Tifoid

Awal mula penyakit ini diawali oleh terjadinya infeksi. Infeksi terjaadi pada saluran pencernaan. Basil diserap dalam usus halus. Melalui pembuluh limfe halus masuk ke dalam peredaran darah sampai di organ-organ terutama hati dan limpa sehingga organ tersebut akan membesar disertai nyeri pada perabaan.

Kemudian basil masuk kembali ke dalam darah (bakteremia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus halus, menimbulkan tukak beerbentuk lonjong pada pada mukosa diatas Peyeri. Tukak tersebut dapat menyebabkan perdarahan dan perforasi usus.

Gejala demam disebabkan oleh endotoksin sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus.

http://www.infokedokteran.com/info-penyakit/demam-tifoid/patogenesis-demam-tifoid.html

DEMAM tifoid merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri patogen Salmonella Enterica khususnya serotipe Typhi (S. typhi). S. typhi adalah bakteri patogen yang telah beradaptasi dengan baik dengan manusia sekira 50.000 tahun lalu melalui mekanisme bertahan dalam inang (host) yang luar biasa.

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad 20, tifoid berstatus endemik di kebanyakan negara di Eropa dan Amerika Utara. Endemik ini terjadi akibat urbanisasi besar-besaran pada revolusi industri dan buruknya perencanaan sistem air bersih.

Saat ini, demam tifoid masih berstatus endemik di banyak wilayah di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan, dimana sanitasi air dan pengolahan limbah kotoran tidak memadai. Sementara, kasus tifoid yang ditemukan di negara maju biasanya akibat terinfeksi saat melakukan perjalanan ke negara-negara dengan endemik tifoid.

“Demam tifoid bisa menjadi sangat parah, terdapat 33 juta kasus dengan kematian sebesar 15 juta per tahun. Indonesia melaporkan angka prevalensinya berkisar 1,6 persen dan menempati urutan 15 besar penyebab kematian,” papar Ketua Perdalin, Prof Dr. Djoko Widodo, DTM&H, SpPD-KPTI usai menandatangani perjanjian kerjasama antara Bayer dan Perhimpunan Pengendalian Infeksi (Perdalin) di Hotel Intercontinental Jakarta MidPlaza, Jakarta, baru-baru ini.

Demam tifoid merupakan masalah serius dalam kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Diperkirakan pada 2000, terjadi 22 juta kasus demam tifoid dan kematian yang disebabkan infeksi ini lebih 200 ribu orang secara global. Hingga abad ke-20, penyakit ini telah menyebar ke seluruh dunia.

“Tifoid biasanya ditularkan melalui konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi dan faktor-faktor risiko tertentu, di antaranya minum dari sumber air yang tercemar, berbagi makanan, mengonsumsi buah-buahan yang terkontaminasi, cuci tangan tidak menggunakan sabun,” jelas Dr. Djoko.

Lebih lanjut, Dr. Djoko yang menjabat staf Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo ini menjelaskan mengenai proses penularan tifoid. Dituturkannya, setelah bakteri S. typhi memasuki tubuh tidak terlihat ada gejala apapun selama 7-14 hari pada umumnya, meski dapat pula berkisar antara 3-60 hari.

Pasien umumnya datang ke rumah sakit dengan keluhan-keluhan seperti demam, gejala flu, sakit kepala berat, lemas, anoreksia, rasa tidak nyaman pada perut, batuk kering, dan nyeri otot.

“Secara bertahap, suhu tubuh akan terus naik dan menetap pada suhu tinggi pada minggu kedua, dan bahkan hingga minggu keempat jika tidak diobati. Kemudian, suhu akan kembali normal, meskipun rasa lemas dan letih akan terus dirasakan hingga beberapa minggu setelahnya. Hingga 10 persen sampai 15 persen pasien yang tidak mendapatkan pengobatan mengalami berbagai komplikasi, seperti perdarahan dan perforasi pada usus halus, serta beberapa kondisi gangguan syaraf,” imbuh dokter berkacamata tersebut.

Dr Djoko juga menjelaskan, bahwa perdarahan terjadi pada kondisi infeksi yang parah, dan ditandai dengan turunnya suhu tubuh secara drastis dan kemudian naik lagi pada awal terjadinya peritonitis, yaitu sebuah kondisi berbahaya dimana peradangan terjadi pada peritoneum (selaput tipis yang melindungi dinding rongga perut).

Perforasi usus halus terjadi pada 1 sampai 3 persen pasien yang dirawat di rumah sakit dengan tingkat kematian 40 persen. Komplikasi ini biasanya memengaruhi ileum terminalis dan harus segera dioperasi.

“Kekambuhan terjadi pada 5-10 persen kasus, umumnya dalam waktu sebulan setelah demam dinyatakan sembuh. Gejala umumnya lebih ringan daripada infeksi sebelumnya dan pada kasus dimana proses klasifikasi molekuler S. typhi telah dilakukan, terlihat bahwa kekambuhan pada umumnya disebabkan oleh jenis isolat yang sama dengan infeksi sebelumnya. Infeksi berulang dengan jenis isolat berbeda juga dapat terjadi,” tutup dokter yang menjabat sebagai Ketua Dewan Guru Besar FKUI tersebut. (ftr)

http://m.okezone.com/read/2010/11/12/195/392763/demam-tifoid-tempati-urutan-15-penyebab-kematian

Bayi bisa kena tifus? Anda pasti akan geleng-geleng kepala, bukankah penyakit ini lebih sering dialami anak atau dewasa yang sudah mengonsumsi jajanan dari luar yang tidak terjamin kebersihannya?

Pendapat itu tidaklah keliru. Meski begitu, bukan berarti bayi bebas dari serangannya. Tifus merupakan penyakit infeksi yang selalu ada di masyarakat (endemik) mulai dari bayi hingga dewasa. Penyebabnya adalah kuman Salmonella typhi. Kuman ini memang gampang menyebar, apalagi di tanah air yang kondisi sanitasinya buruk.

Penularan tifus umumnya terjadi lewat makanan yang kurang bersih. Pada bayi ASI, ketika usianya 6 bulan ke atas, karena sudah mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI), bila kebersihannya saat pengolahan, penyajian, maupun pemberian kurang diperhatikan, maka si kecil beresiko terserang tifus.

Selain dari makanan yang tercemar, penularan tifus ke bayi juga bisa terjadi lewat orang dewasa sehat yang membawa kuman tifus (healthy carrier). Pembawa kuman tifus ini umumnya pernah sakit tifus tetapi tidak menjalani pengobatan dengan tuntas.

Gejala bervariasi
Berbeda dari orang dewasa, tifus pada bayi sulit terdeteksi. Walhasil, penegakan diagnosis tifus pun tidaklah mudah. Umumnya bayi hanya menangis atau rewel bila mengalami ketidaknyamanan.

Tak mudah menentukan gejala secara spesifik, apalagi kalau demamnya hanya 1-2 hari. Hanya saja, ibu perlu mencurigai serangan tifus bila :
– Bayi mengalami demam yang turun naik dalam waktu lama (lebih dari 5 hari) dengan pola demam naik turun, naik di sore atau malam hari, lalu biasanya menurun di pagi hingga siang hari.

- Mengalami gangguan buang air besar, bisa berupa diare atau bahkan sulit BAB. Ini terjadi lantaran kuman yang menyerang saluran cerna menyebabkan gangguan penyerapan cairan sehingga terjadi diaere.

- Mengalami “lidah kotor” atau lidah tampak memutih dengan ujung dan tepi kemerahan.

- Mengalami mual dan muntah. Penyebabnya, si kuman berkembang biak di hati dan limpa, akibatnya terjadi pembengkakan yang menekan lambung dan timbullah rasa mual.

Selain melihat gejala, untuk menegakkan diagnosis tifus yang akurat, dokter boleh jadi akan melakukan berabgai pemeriksaan. Salah satunya tes widal. Tes ini juga bisa mendeteksi penyakit paratifus, sebuah penyakit dengan gejala mirip tifus tetapi lebih ringan.

Pengobatan
Pengobatan tifus pada bayi tidak jauh berbeda dari pengobatan pada anak atau orang dewasa. Pengobatan dilakukan untuk meniadakan invasi kuman dan mempercepat pembasmian kuman, memperpendek perjalanan penyakit, serta mempercepat penyembuhan.

Dokter pun memilih antibiotik yang tap untuk bayi. Selain itu, bayi juga dianjurkan makan dan minum dengan kandungan nutrisi dan porsi yang cukup. Masak hingga bahan makanan lunak. Pilih bahan yang tidak menimbulkan banyak gas. (Nakita/Hilman)

Narasumber: Dr.Patria Vittarina, Sp.A dari RSIA Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta

http://m.kompas.com/news/read/data/2010.06.04.12021963

Penyakit Demam Tifoid

Posted: 03/06/2010 in Demam Tifoid

Penyakit Demam Tifoid (bahasa Inggris: Typhoid fever) yang biasa juga disebut typhus atau types dalam bahasa Indonesianya, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, khususnya turunannya yaitu Salmonella Typhi terutama menyerang bagian saluran pencernaan.

Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut yang selalu ada di masyarakat (endemik) di Indonesia, mulai dari usia balita, anak-anak dan dewasa.

Menurut keterangan dr. Arlin Algerina, SpA, dari RS Internasional Bintaro, Di Indonesia, diperkirakan antara 800 – 100.000 orang terkena penyakit tifus atau demam tifoid sepanjang tahun.

Demam ini terutama muncul di musim kemarau dan konon anak perempuan lebih sering terserang, peningkatan kasus saat ini terjadi pada usia dibawah 5 tahun.

Cara Penularan Penyakit Demam Tifoid

Penyakit demam Tifoid ini bisa menyerang saat kuman tersebut masuk melalui makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Dan melalui peredaran darah, kuman sampai di organ tubuh terutama hati dan limpa. Ia kemudian berkembang biak dalam hati dan limpa yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.

Tanda dan Gejala Penyakit Demam Tifoid

Penyakit ini bisa menyerang saat bakteri tersebut masuk melalui makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Kemudian mengikuti peredaran darah, bakteri ini mencapai hati dan limpa sehingga berkembang biak disana yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.

Gejala klinik demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang ringan bahkan dapat tanpa gejala (asimtomatik). Secara garis besar, tanda dan gejala yang ditimbulkan antara lain ;
– Demam lebih dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun menjelang malamnya demam tinggi.
– Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.
– Mual Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hatidan limpa, Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.
– Diare atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan gangguan penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).
– Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas, pusing. Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.
– Pingsan, Tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman dengan berbaring tanpa banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah seringkali terjadi gangguan kesadaran.

Diagnosa Penyakit Demam Tifoid

Untuk ke akuratan dalam penegakan diagnosa penyakit, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium diantaranya pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan Widal dan biakan empedu.

Pemeriksaan darah tepi merupakan pemeriksaan sederhana yang mudah dilakukan di laboratorium sederhana untuk membuat diagnosa cepat. Akan ada gambaran jumlah darah putih yang berkurang (lekopenia), jumlah limfosis yang meningkat dan eosinofilia.

Pemeriksaan Widal adalah pemeriksaan darah untuk menemukan zat anti terhadap kuman tifus. Widal positif kalau titer O 1/200 atau lebih dan atau menunjukkan kenaikan progresif.

Diagnosa demam Tifoid pasti positif bila dilakukan biakan empedu dengan ditemukannya kuman Salmonella typhosa dalam darah waktu minggu pertama dan kemudian sering ditemukan dalam urine dan faeces.

Sampel darah yang positif dibuat untuk menegakkan diagnosa pasti. Sample urine dan faeces dua kali berturut-turut digunakan untuk menentukan bahwa penderita telah benar-benar sembuh dan bukan pembawa kuman (carrier).

Sedangkan untuk memastikan apakah penyakit yang diderita pasien adalah penyakit lain maka perlu ada diagnosa banding. Bila terdapat demam lebih dari lima hari, dokter akan memikirkan kemungkinan selain demam tifoid yaitu penyakit infeksi lain seperti Paratifoid A, B dan C, demam berdarah (Dengue fever), influenza, malaria, TBC (Tuberculosis), dan infeksi paru (Pneumonia).

Perawatan dan Pengobatan Penyakit Demam Tifoid

Perawatan dan pengobatan terhadap penderita penyakit demam Tifoid atau types bertujuan menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali. Pengobatan penyakit tifus dilakukan dengan jalan mengisolasi penderita dan melakukan desinfeksi pakaian, faeces dan urine untuk mencegah penularan. Pasien harus berbaring di tempat tidur selama tiga hari hingga panas turun, kemudian baru boleh duduk, berdiri dan berjalan.

Selain obat-obatan yang diberikan untuk mengurangi gejala yang timbul seperti demam dan rasa pusing (Paracetamol), Untuk anak dengan demam tifoid maka pilihan antibiotika yang utama adalah kloramfenikol selama 10 hari dan diharapkan terjadi pemberantasan/eradikasi kuman serta waktu perawatan dipersingkat. Namun beberapa dokter ada yang memilih obat antibiotika lain seperti ampicillin, trimethoprim-sulfamethoxazole, kotrimoksazol, sefalosporin, dan ciprofloxacin sesuai kondisi pasien. Demam berlebihan menyebabkan penderita harus dirawat dan diberikan cairan Infus.

Komplikasi Penyakit Demam Tifoid

Komplikasi yang sering dijumpai pada anak penderita penyakit demam tifoid adalah perdarahan usus karena perforasi, infeksi kantong empedu (kolesistitis), dan hepatitis. Gangguan otak (ensefalopati) kadang ditemukan juga pada anak.

Diet Penyakit Demam Tifoid

Penderita penyakit demam Tifoid selama menjalani perawatan haruslah mengikuti petunjuk diet yang dianjurkan oleh dokter untuk di konsumsi, antara lain :
– Makanan yang cukup cairan, kalori, vitamin & protein.
– Tidak mengandung banyak serat.
– Tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas.
– Makanan lunak diberikan selama istirahat.

Untuk kembali ke makanan “normal”, lakukan secara bertahap bersamaan dengan mobilisasi. Misalnya hari pertama dan kedua makanan lunak, hari ke-3 makanan biasa, dan seterusnya.

Pencegahan Penyakit Demam Tifoid

Pencegahan penyakit demam Tifoid bisa dilakukan dengan cara perbaikan higiene dan sanitasi lingkungan serta penyuluhan kesehatan. Imunisasi dengan menggunakan vaksin oral dan vaksin suntikan (antigen Vi Polysaccharida capular) telah banyak digunakan. Saat ini pencegahan terhadap kuman Salmonella sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid). Untuk anak usia 2 tahun yang masih rentan, bisa juga divaksinasi.

http://www.infopenyakit.com/2008/08/penyakit-demam-tifoid.html