Pakuan Express
Kereta api Pakuan Ekspres adalah kereta api ekspres yang melayani koridor Bogor – Jakarta Kota dan Bogor – Tanah Abang yang diluncurkan tahun 2000 dan menggunakan unit kereta hibah dari Jepang. Kereta api ini merupakan kereta rel listrik (KRL) Ekspres pertama yang menggunakan fasilitas pendingin udara. Pakuan Ekspres menempuh jarak antara Bogor – Jakarta sepanjang 55 kilometer dalam waktu 55-70 menit. Pakuan Ekspres berhenti di Stasiun Cilebut (Tidak setiap rangkaian), Stasiun Bojonggede (Tidak setiap rangkaian), Stasiun Tebet (Tidak Setiap rangkaian), Stasiun Manggarai (Tidak setiap rangkaian), Stasiun Cikini (Tidak setiap rangkaian), Stasiun Gondangdia, Stasiun Gambir, dan Stasiun Juanda untuk tujuan Jakarta Kota. Sedangkan untuk tujuan Stasiun Tanah Abang, Pakuan Ekspres berhenti di Stasiun Cilebut, Stasiun Bojonggede dan Stasiun Sudirman. Nama kereta ini diambil dari kerajaan Pakuan Padjadjaran. Pada tahun 2006 PJKA membeli 16 rangkaian baru dan rangkaian lama dijadikan kereta semi ekspres,Kemudian KA Semi ekspress Dirubah menjadi KRL Ekonomi AC. Kereta ini merupakan cikal bakal kereta berpenyejuk udara lainnya.

Waktu Kedatangan dari Bogor – Manggarai
Apabila berangkat dari Bogor 07.00
Cilebut 07.10
Bojonggede 07.16
Depok 07.28
Manggarai 07.55

Jadwal KRL Pakuan Ekspres
Tujuan Jakarta Kota dan Sebaliknya
Bogor – Jakarta Kota :
05.57* ; 06.25 ; 06.40** ; 07.00 ; 07.15** ; 09.20 ; 10.20 ; 10.55 ; 11.20 ; 11.55 ; 12.20 ; 13.20 ; 13.55 ; 14.55 ; 15.35 ; 16.20 ; 17.15 ; 17.56** ; 19.50**

Jakarta Kota – Bogor :
07.12* ; 07.36 ; 08.11 ; 08.29** ; 08.49* ; 09.27** ; 10.35 ; 11.35 ; 12.05 ; 12.35 ; 13.05 ; 13.35 ; 14.35 ; 15.05 ; 15.49 ; 16.05 ; 16.43 ; 17.22 ; 18.20 ; 19.07** ; 21.00**

Tujuan Tanah Abang dan Sebaliknya
Bogor – Tanah Abang :
05.35* ; 06.10* ; 08.04* ; 15.40** ; 16.30 ; 16.40*

Tanah Abang – Bogor
06.36* ; 09.10* ; 16.42* ; 17.18* ; 17.37 ; 19.20*

Tujuan Ancol dan Sebaliknya (KRL Wisata Ancol)
Bogor – Ancol :
08.25**** ; 15.10****

Ancol – Bogor
10.10**** ; 17.05****

Keterangan :
* = Sabtu, Minggu/Libur – BATAL
** = Minggu/Libur – BATAL
**** = Jalan hanya hari Minggu/Libur

Tarif :
Bogor – Jakarta Kota/Tanah Abang : Rp. 11.000,-
Bogor – Ancol : Rp. 22.500,- (sudah termasuk tiket pulang)

Bogor Ekonomi AC
Kereta Rel Listrik Bogor Ekonomi AC adalah rangkaian KRL Ekonomi ber-AC yang dijalankan pada rute Bogor – Jakarta Kota dan sebagian untuk rute Bogor – Tanah Abang. Kereta ini merupakan rangkaian kereta hibah dari Jepang. Untuk mencapai Stasiun Jakarta Kota, kereta ini perlu memakan waktu sekitar 80-100 menit. KRL untuk tujuan Stasiun Jakarta Kota ini berhenti disetiap stasiun yang dilewatinya, kecuali Stasiun Gambir (Untuk KRL larut malam, KRL ini berhenti di Stasiun Gambir).

Jadwal KRL Bogor Ekonomi AC
Tujuan Jakarta Kota dan Sebaliknya
Bogor – Jakarta Kota :
05.45 ; 06.14 ; 08.16 ; 08.27 ; 09.24 ; 09.50 ; 10.30***** ; 11.40 ; 11.50 ; 12.25 ; 12.55 ; 13.50***** ; 15.45 ; 15.56 ; 16.32 ; 18.13** ; 19.40** ; 19.55 ; 21.00**

Waktu Kedatangan dari Bogor – Universitas Indonesia
Apabila berangkat dari Bogor 15.56
Cilebut 16.07
Bojong Gede 16.15
Citayam 16.20
Depok 16.27
Depok Baru 16.32
Pondok Cina 16.37
Universitas Indonesia 16.40

Jakarta Kota – Bogor :
07.29 ; 08.22***** ; 09.55 ; 10.11 ; 10.40 ; 11.11 ; 11.50 ; 13.20 ; 14.10 ; 14.50 ; 17.23 ; 17.40 ; 18.13 ; 19.55** ; 21.14** ; 21.30 ; 22.35**

Tujuan Tanah Abang dan Sebaliknya
Bogor – Tanah Abang :
19.10

Tanah Abang – Bogor :
06.24 ; 20.45

Keterangan :
** = Minggu/Libur – BATAL
***** = Jalan hanya hari Sabtu dan Minggu/Libur

Tarif :
Bogor – Jakarta Kota/Tanah Abang : Rp. 5.500,-

Bogor Ekonomi
KRL Bogor Ekonomi merupakan rangkaian Kereta berkelas Ekonomi yang melayani rute dari Bogor ke Jakarta Kota, Tanah Abang, dan Angke. Sama seperti halnya KRL Bogor Ekonomi AC, rangkaian ini butuh waktu 80-100 menit untuk perjalanannya dari stasiun awal ke stasiun akhir, namun kereta api ini tidak dilengkapi Air Conditioner.

Jadwal KRL Bogor Ekonomi
Tujuan Jakarta Kota dan Sebaliknya
Bogor – Jakarta Kota :
04.30 ; 05.24 ; 06.05 ; 06.33 ; 07.03 ; 07.44 ; 08.35 ; 08.50 ; 09.14 ; 10.10 ; 10.50 ; 12.05 ; 12.40 ; 13.40 ; 14.05 ; 14.50 ; 15.05 ; 15.25 ; 16.25 ; 16.55 ; 17.08 ; 17.30 ; 17.45 ; 18.20 ; 19.00

Jakarta Kota – Bogor :
06.05 ; 06.31 ; 07.02 ; 07.20 ; 08.12 ; 09.05 ; 09.15 ; 09.30 ; 10.27 ; 10.50 ; 10.28 ; 11.50 ; 12.38 ; 13.07 ; 13.45 ; 14.20 ; 15.17 ; 15.51 ; 16.26 ; 16.49 ; 17.05 ; 18.00 ; 18.32 ; 18.59 ; 19.09 ; 19.30 ; 20.05 ; 20.45

Tujuan Tanah Abang dan Sebaliknya
Bogor – Tanah Abang :
07.20 ; 11.25

Tanah Abang – Bogor :
07.53

Tujuan Angke dan Sebaliknya
Bogor – Angke :
05.00 (Sebagai Ekonomi)

Angke – Bogor :
10.19 (Sebagai Ekonomi AC)

Tarif :
Kisaran harga tiket antara Rp. 1.500 s.d. Rp. 2.000,- (Mulai 1 Oktober 2010 menjadi Rp. 3.500,-)
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Kereta_api_Pakuan_Ekspres

About these ads
Comments
  1. KRL AC single operation bakal membuat subsidi BBM bengkak

    JAKARTA. Mulai tanggal 2 Juli 2011 KRL Ekonomi AC Jabodetabek dengan tarif Rp 5.500 Depok-Bogor dan tarif Rp 4.500 untuk Serpong-Bekasi-Tangerang dan KRL AC Ekspres Jabodetabek tarif Rp11.000 sudah tidak beroperasi lagi. Pemberhentian seluruh operasi KRL tersebut akan digantikan dengan KRL AC Single operation Jabodetabek dengan tarif Rp 9.000 Depok-Bogor dan Rp 8.000 Serpong-Bekasi-Tangerang.

    Terhadap rencana pemberlakuan single operation ini, anggota Komisi V, Sigit Sosiantomo, meminta pemerintah melalui Menteri Perhubungan agar melakukan peninjauan ulang pemberlakuan sistem itu. Soalnya, Sigit menilai dengan adanya KRL AC Single operation akan menyebabkan beralihnya mayoritas masyarakat kepada penggunaan kendaraan pribadi. Kemudian, sambungnya, akan berujung pada meningkatnya penggunaan BBM bersubsidi yang saat ini telah mencapai angka Rp 42 triliun.

    Tentu saja bagi Sigit itu sangat bertentangan dengan semangat menjadikan KRL sebagai backbone transportasi pengurang kemacetan di Jakarta.”Subsidi BBM yang telah mencapai angka 42 Triliun dan dikhawatirkan terus membengkak itu lebih baik agar dialihkan secara gradual untuk menambah subsidi (PSO) transportasi massal (KRL),” ujar Sigit dalam rilis yang diterima KONTAN, Kamis (23/6).

    Tak hanya itu, Sigit menilai banyak dampak negatif atas pemberlakuan kebijakan 2 Juli itu. Antara lain, akan berkurangnya pelayanan PT KAI untuk masyarakat kurang mampu. Tak hanya itu, ia pun telah menghitung kalau KRL Ekonomi AC dihapuskan, maka hampir 50% jadwal perjalanan KRL mengalami penurunan.

    Di mana semula, ada 17 jadwal perjalanan KRL Ekonomi AC per/harinya dan kalau diberlakukannya KRL AC Single operation Jabodetabek maka hanya menjadi 9 perjalanan. Sigit menegaskan bahwa program ini jelas tidak pro-poor dan menyalahi amanat UUD pasal 34 ayat (3) UUD 1945 disebutkan bahwa negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan umum yang layak.

    “Pemerintah harus memastikan kelayakannya, baik dari sisi jumlah perjalanan maupun kualitas keretanya. Pemerintah harus melakukan peninjauan bahkan pembatalan rencana pengoperasian single operation jika ternyata akan menyebabkan berkurangnya jumlah perjalanan KRL,” jelasnya.

    Politisi PKS itu pun mengingatkan juga bahwa dengan berkurangnya jumlah perjalanan KRL Ekonomi AC akan berdampak pada padatnya KRL ekonomi. “Secara kualitas akan semakin memprihatinkan,” tambahnya.

    Alhasil, anggota Komisi yang membidangi transportasi itu memberikan solusi. Apabila alasan pengurangan jumlah jadwal perjalanan KRL karena kurangnya subsidi Pemerintah terhadap biaya
    Public Service Obligation (PSO) kepada PT KAI, maka Pemerintah harus menambah besaran subsidi PSO tersebut. “Pemerintah juga harus tinjau ulang kenaikan tarif KRL Ekonomi AC dari Rp5.500 menjadi Rp 9.000 dengan sistem single operation,” tutupnya.

    Dwi Nur Oktaviani
    http://mobile.kontan.co.id/nasional/read/71121/KRL-AC-single-operation-bakal-membuat-subsidi-BBM-bengkak

  2. Tarif Baru KRL

    JAKARTA – Penurunan tarif baru kereta rel listrik (KRL) commuter line yang ditetapkan beberapa waktu lalu masih bisa berubah. PT Kereta Api (KA) akan mengevaluasi lagi setelah enam bulan.

    Tidak menutup kemungkinan, tarif KRL commuter line naik lagi seperti usulan semula. Kepala Humas PT KA Daops I Jakarta Mateta Rizalulhaq mengatakan, perubahan tarif yang akan diuji coba mulai besok bukanlah penurunan tapi hanya diskon harga. Menurut dia,perubahan tarif tersebut akan dievaluasi pada enam bulan mendatang.

    ”Dari hasil uji coba, hasilnya kita bukan cuma mengevaluasi pola operasinya tapi juga tarifnya.Ini nanti enam bulan dievaluasi, nanti akan disesuaikan, jadi ini bukan penurunan, tapi lebih tepatnya diskon,” ujar Mateta.

    Meski demikian, Mateta tidak bisa memastikan apakah setelah enam bulan tarif akan mengalami kenaikan atau penurunan lagi. Namun, pihaknya memastikan, jika seandainya tarif naik maka akan diikuti dengan peningkatan pelayanan. ”Masyarakat kita ingin perimbangan,dengan tarif seperti itu, masyarakat menuntut pelayanannya seperti apa. Jadi, kita lihat pola operasinya seefektif apa, apakah sesuai dengan harapan kita bersama atau tidak,”terangnya.

    Adapun, besaran tarif KRL commuter line yang akan diterapkan yakni rute Jakarta– Bogor sebesar Rp7.000, rute Jakarta– Depok Rp6.000, rute Jakarta– Bekasi Rp6.500, rute Jakarta– Tangerang Rp5.500, dan rute Jakarta–Serpong Rp6.000. Pengamat transportasi dari Universitas Indonesia (UI) Alvinsyah menilai, PT KA selaku operator kurang terbuka terhadap publik.

    Padahal,masyarakat berhak tahu tarif dan pelayanan seperti apa dari KRL commuter line yang akan diterapkan. ”Saya melihat tidak ada penjelasan secara terbuka mengenai tarif ini. Paling hanya pernyataan dalam media tapi PT KA tidak pernah menceritakan secara gamblang kenapa harga naik atau turun seperti sekarang, apakah pelayanannya juga diturunkan sehingga lebih murah,”kata Alvinsyah.

    Alvinsyah juga menilai, pemerintah selaku regulator tak banyak berperan.Pemerintah yang harusnya menjembatani antara operator (PT KA) dengan pengguna kereta tak ambil bagian. ”Ingat, pelayanan publik itu kewajiban negara tapi pemerintah tidak ada peran di sini.Sepertinya diam saja padahal ia punya kewajiban yang harus dijalani,”ujarnya.

    Menurut Alvinsyah,kenaikan tarif tidak akan dipersoalkan bila PT KA memberikan gambaran secara rinci apa manfaat dan kelebihan dari kenaikan itu. ”Peningkatan seperti apa yang dimaksud.Tarif Rp5.500 jadi Rp9.000 atau Rp7.000 perbaikannya apa. Apa yang kita bayar lebih. Hal itu yang seharusnya dijelaskan. Kalau tidak, akibatnya pengguna kereta lebih dianggap sebagai objek bukan subjek,”keluhnya.

    Nurcahyo, moderator http://www.krlmania.com menegaskan, pelayanan KRL yang menurun menyebabkan pengguna KRL menolak kenaikan tarif. Apalagi,PT KA tidak menetapkan standar pelayanan minimum (SPM) yang harus dipenuhi dengan kenaikan tarif itu.”Akhir akhir ini pelayanan kereta sangat menurun.

    Di tengah kondisi seperti ini, layakkah menaikkan tarif,”kata Cahyo Dia menjelaskan, kenaikan tarif sekarang ini belum tentu dibarengi dengan perbaikan pelayanan. Karena itulah, pengawasan harus dilakukan secara ketat. ”Jangan-jangan, setelah tarif naik tak ada perubahan,” tukasnya.

    Cahyo mengatakan,besaran tari abonemen (langganan) juga belum ada perubahan. Awalnya PT KA menaikkan tarif abonemen KRL ekonomi AC dari Rp155.000 menjadi Rp357.000 untuk lintas Jakarta–Bogor. ”Seharusnya sudah mulai disesuaikan dengan revisi harga tarif baru,”jelas Cahyo.  (/) (ram)
    http://m.okezone.com/read/2011/06/29/338/473812

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s