Kejang Demam pada Anak

Posted: 05/01/2011 in Ibu&Tumbuh Kembang Anak, Saraf
Tags: , , ,

TANYA:   Dokter, anak saya berusia 2 tahun, sejak usia 1,5 tahun ia suka mengalami kejang jika demam tinggi. Berbahayakah kondisi itu dan bagaimana pencegahannya? Kira-kira sampai usia berapa seorang anak mengalami kejang demam? Mohon bantuannya.

Irman, Jakarta

JAWAB: Kejang yang timbul saat demam disebut kejang demam (KD) yang disebabkan oleh penyebab di luar susunan saraf pusat/otak. KD terbagi menjadi KD sederhana dan KD kompleks. Biasanya setelah kejang berakhir kesadaran anak membaik. Kejang demam dapat terjadi pada usia seorang anak antara 6 bulan sampai dengan 6 tahun.

Beberapa anak dapat mengalami episode kejang setiap ia menderita demam, sedangkan yang lain tidak. Kejang demam sendiri memiliki prognosis yang cukup baik selama tidak sering berulang dan bukan disebabkan oleh infeksi di dalam otak. Cara mencegahnya adalah dengan segera menurunkan suhu tubuh si kecil saat teraba demam dengan cara memberikannya cukup cairan, mengompres seluruh tubuhnya dengan air hangat, memberinya obat penurun demam.

http://m.kompas.com/news/read/data/2011.01.05.10064519

Kejang Demam Bisa Ganggu Kecerdasan
KOMPAS.com — Stuip (dibaca: step) atau lebih dikenal dengan istilah kejang demam sering kali timbul bila suhu tubuh anak meninggi (demam). Kondisi ini sering dialami anak-anak berusia kurang dari lima tahun dan akan hilang dengan sendirinya begitu anak berusia lima tahun.

Kejang demam ini dibedakan menjadi dua macam. Pertama adalah yang berlangsung singkat namun diawali demam. Sementara itu, yang berlangsung lebih dari 15 menit, fokal (hanya sebagian tubuh yang kejang) dan multiple (lebih dari satu kali kejang per episode), disebut sebagai kejang demam kompleks. Kejang demam kompleks lebih berisiko menjadi epilepsi.

Kejang demam, menurut dr Hanif Tobing, ahli bedah saraf dari Departemen Bedah Saraf FKUI/RSCM Jakarta, terjadi karena lompatan listrik yang berlebihan pada sel otak. “Lompatan listrik yang berlebihan ini bisa disebabkan karena demam tinggi, adanya tumor di otak, atau karena ada kelainan metabolik,” paparnya.

Sebagian besar stuip pada anak tidak berbahaya. Namun, yang harus diwaspadai orangtua adalah bila kejang sampai berulang dan terjadinya epilepsi. Ciri-ciri munculnya epilepsi adalah bila anak mengalami kejang tanpa disertai demam.

Selain itu, menurut dr Hanif, stuip yang lama dan berulang bisa merusak otak anak. “Kejang yang lama bisa menyebabkan hipoksia (kekurangan oksigen). Bila terjadi terlalu lama, jaringan otak yang rusak bisa ribuan. Akibatnya, anak bisa menjadi bodoh atau epilepsi,” tuturnya.

Penelitian menunjukkan, stuip lebih banyak terjadi pada anak yang memiliki riwayat keluarga dengan kejang demam atau anak yang perkembangannya terlambat. Jika ada riwayat kesehatan keluarga, maka orangtua bisa melakukan tindakan pencegahan. “Usahakan agar suhu tubuh anak tidak terlalu tinggi. Langsung berikan obat penurun panas atau obat antikejang,” saran dr Hanif.

Yang penting orangtua tidak perlu panik saat anak mengalami kejang. Bila anak mengalami kejang, langkah berikut bisa menolongnya terhindar dari cedera:
– Baringkan anak pada posisi tengkurap atau miring, bukan telentang.
– Singkirkan semua benda tajam atau keras yang ada di dekatnya.
– Longgarkan pakaian yang ketat atau menghalangi gerakannya.
– Jangan menahan atau ikut campur dengan gerakan anak.
– Tidak boleh menaruh benda, seperti sendok atau tangan, di antara rahang anak.
– Segera berikan obat untuk menghentikan kejang yang diberikan melalui dubur.
– Setelah kejang berlalu dan anak terbangun, berilah obat penurun panas atau bawalah ke dokter.

http://m.kompas.com/news/read/data/2010.03.23.13363197

8 Pertanyaan Seputar Demam
DEMAM merupakan kondisi tubuh dengan suhu di atas 37,50c sementara normalnya berkisar 36-37,50c. Demam kerap disertai gejala menggigil, rewel, lesu, gelisah, sulit makan, susah tidur dan sebagainya. Ada beragam pendapat awam soal penanganan demam pada anak yang diluruskan oleh dr. Elizabeth Yohmi, Sp.A, dari RS St. Carolus, Jakarta.

1. Suhu Tubuh Bisa Diukur dengan  Punggung Tangan?

Mungkin masih ada orangtua yang menggunakan metode “manual” untuk mengetahui apakah si kecil demam atau tidak. Caranya amat sederhana, cukup dengan meletakkan punggung tangan di dahi anak yang diduga demam. Atau ada juga yang mencoba mendeteksi peningkatan tubuh si kecil dengan cara memegang bagian tangan/kaki apakah terasa lebih “hangat” atau tidak.

Padahal langkah seperti itu tentu tak akurat. Ada cara yang tepat dan akurat untuk mengukur suhu tubuh, yakni menggunakan termometer. Tingkat akurasinya tergolong tinggi bila pengukuran dilakukan di bagian rektum/anus. Kenapa? Karena wilayah inilah yang paling mendekati suhu tubuh sebenarnya. Namun bukan berarti termometer yang ditempatkan di ketiak, dahi maupun telinga tak akurat lo. Si kecil boleh dibilang demam bila temperatur tubuhnya diukur melalui mulut/telinga menunjukkan angka 37,80C; melalui rektum 380C, dan 37,20C melalui ketiak.

Untuk memantau perkembangan suhu badan si kecil, boleh-boleh saja diukur setiap 3 jam sekali. Kalau perlu, setiap jam juga boleh. Yang jelas, orangtua perlu mencatat perkembangan suhunya, apakah mengalami kenaikan atau penurunan. Lalu ketika memeriksakan si kecil ke dokter, sampaikan catatan perkembangan suhu tersebut. Siapa tahu, pola suhu tubuh dapat digunakan untuk membantu mengetahui kemungkinan penyakit yang diderita si kecil.

2. Kompres Bantu Turunkan Suhu Tubuh?

Metode kompres dianggap sebagai upaya penurun suhu badan. Cara kompres seperti ini memang benar bila dilakukan dengan air hangat. Apa pasal? Karena air hangat membantu pembuluh darah tepi di kulit melebar hingga pori-pori jadi terbuka yang selanjutnya memudahkan pengeluaran panas dari dalam tubuh. Pendapat lain, dengan suhu di luar yang hangat, maka tubuh akan menganggap suhu di luar cukup panas yang membuat tubuh bereaksi menurunkan suhu.

Selain itu, kompres juga bertujuan menurunkan suhu di permukaan tubuh. Turunnya suhu diharapkan terjadi lewat panas tubuh yang digunakan untuk menguapkan air pada kain kompres. Konkretnya, kain kompres dapat diletakkan tak hanya di dahi/kening, tapi juga perut atau di bagian tubuh yang luas dan terbuka. Bisa juga diletakkan di wilayah yang terdapat pembuluh-pembuluh darah besar, semisal leher, ketiak, selangkangan maupun lipatan paha.

Yang perlu diperhatikan, hindari mengompres dengan air dingin, air es atau es batu. Pasalnya, perbedaan suhu yang kelewat ekstrem ini dapat mengakibatkan “korsleting” atau benturan kuat di otak antara suhu panas tubuh dengan kompres yang terlalu dingin tadi. Alih-alih menurunkan suhu tubuh, kompres air dingin justru memicu peningkatan suhu tubuh. Soalnya, air kompres yang dingin tadi dapat menyebabkan pembuluh darah tepi mengecil. Akibatnya, panas yang seharusnya dialirkan oleh darah ke kulit agar keluar dari tubuh justru jadi terhalang hingga suhu tubuh pun akan meningkat.

Begitu juga dengan metode kompres yang menggunakan alkohol. Metode yang dulu dianggap mujarab menurunkan demam ini sudah saatnya ditinggalkan. Soalnya, alkohol bersifat mudah menguap dan untuk proses penguapan ini dibutuhkan energi panas yang diambil dari tubuh penderita. Dengan kompres alkohol, penurunan suhu tubuh bisa berlangsung cepat yang justru bisa membahayakan, Belum lagi uap dari baluran alkohol di tubuh akan terhirup oleh si kecil dan bisa menimbulkan gangguan pada susunan saraf pusat.

3. Anak Demam Tak Boleh Diselimuti?

Sebaiknya memang tidak menyelimuti si kecil yang sedang demam, apalagi menggunakan selimut tebal. Selain itu anak sebaiknya tak dipakaikan baju tebal atau jaket ketat dan tertutup rapat yang justru bakal meningkatkan suhu tubuhnya. Sebaliknya, agar suhu tubuhnya cepat turun, gunakan pakaian tipis longgar dan bahannya menyerap keringat yang membuat si kecil jadi nyaman dan tak kegerahan. Usahakan pula agar sirkulasi kamar/ruangannya baik.

Khusus pada bayi, metode kanguru bisa dicoba untuk menurunkan suhu tubuh. Secara psikologis, menggendong metode kanguru juga akan membuat si kecil merasa nyaman berada dalam dekapan/pelukan ibunya.

4. Demam Dapat Akibatkan Dehidrasi?

Demam memang akan memaksa tubuh mengeluarkan cairan lebih banyak. Bila asupan cairan kurang, misalnya si kecil malas makan dan minum, tentu saja bisa menyebabkan dehidrasi. Salah satu tandanya, selama beberapa waktu (setidaknya 6 jam) si kecil tak buang air kecil. Pada bayi malah lebih mudah lagi mengenalinya karena popoknya tetap kering dalam 6 jam terakhir.

Agar si kecil tak mengalami dehidrasi/kekurangan cairan, usahakan untuk sebentar-sebentar memberinya minum. Tak cuma itu, bujuklah si kecil untuk mau mengonsumsi makanan yang banyak mengandung air seperti sayuran berkuah atau buah-buahan yang banyak mengandung air. Sediakan aneka minuman yang disukai anak seperti susu, jus buah atau teh manis. Dengan demikian, risiko dehidrasi dapat diminimalkan.

Yang pasti, setiap kenaikan suhu tubuh memerlukan asupan cairan tambahan. Semakin tinggi demamnya, kian banyak pula jumlah cairan yang diperlukan. Ini tantangan yang tidak ringan bagi orangtua karena biasanya selagi demam anak cenderung menolak asupan minuman dan makanan. Bujuklah anak untuk istirahat supaya tubuhnya cukup memiliki daya tahan guna melawan infeksi. Khusus untuk bayi, berikan ASI lebih banyak dan lebih sering. Bila usianya sudah lebih dari 6 bulan bisa ditambah dengan air putih, kaldu ayam, kuah sayur, atau jus buah.

5. Tak Boleh Mandi Sampai Demam Reda?

Seperti halnya kompres hangat, mandi air hangat justru amat dianjurkan untuk mereka yang demam. Setelah mandi, segera keringkan tubuh anak dengan handuk dan cepatlah berganti pakaian agar tidak kedinginan. Selain membuat tubuh segar dan nyaman, mandi juga sangat baik untuk menghilangkan kuman dan bakteri di kulit. Untuk bayi pun boleh-boleh saja. Jika agak khawatir, lepaskan seluruh pakaiannya, kemudian lap sekujur tubuhnya dengan menggunakan handuk yang telah dibasahi air hangat, lalu segera keringkan.

6. Begitu Demam Langsung Beri Obat?

Sebetulnya demam merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap serangan bakteri dan virus. Para ahli yakin, tubuh dapat lebih efektif melawan infeksi jika suhunya naik. Nah, jika perilaku anak tidak berubah, yakni tetap aktif bermain dan tetap mau minum serta makan, orangtua tidak perlu langsung memberinya obat penurun panas. Biarkan tubuhnya bekerja secara alami. Konkretnya, jika suhu tubuh di atas normal tapi belum demam (antara 37,5-380C) alias sumeng, anak tak perlu diberi obat penurun panas. Cukup dengan membuatnya nyaman dalam ruangan bersuhu normal dengan pakaian biasa dan minum yang banyak.

Sedangkan bila suhu tubuh sudah di atas 380C, berikan obat penurun panas dalam bentuk drops sesuai dosisnya. Tentu lebih baik bila berkonsultasi dulu pada dokter. Ada 2 kelompok obat yang disarankan yakni ibuprofen dan asetaminofen/parasetamol. Asetaminofen dapat diulang setiap 4 jam sekali dan ibuprofen 6 jam sekali bila suhu tubuh tetap masih tinggi. Penting pula diperhatikan, untuk mengatasi demam pada bayi, jangan memberi 2 kelompok obat sekaligus ataupun obat penurun demam yang merupakan kombinasi asetaminofen dan ibuprofen.

Obat pereda demam sebenarnya hanya bekerja menurunkan suhu tubuh untuk sementara waktu sebab obat ini tidak mematikan bibit penyakit yang menyebabkan infeksi. Jadi, jangan heran kalau suhu si kecil naik lagi, itu karena infeksinya belum benar-benar sembuh. Gejala ini bisa terjadi paling tidak dalam 2-3 hari. Infeksinya sendiri, seperti influenza, bisa berlangsung 5-7 hari.

7. Madu Bisa Obati Demam?

Madu tersusun atas beberapa senyawa gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, kalsium, natrium, klor, belerang, besi, dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3. Salah satu khasiatnya, madu dianggap mampu menurunkan suhu tubuh. Penggunaan madu untuk bayi di bawah satu tahun sebaiknya dihindari dan tidak digunakan bila terdapat diare.

8. Bila Demam, Kapan ke Dokter?

Ada beberapa kondisi demam yang mengharuskan orangtua sesegera mungkin membawa anaknya ke dokter. Di antaranya bila suhu demam sangat tinggi (lebih 40°C), disertai keluhan sulit bernapas, kejang, muncul bintik merah atau biru di tangannya, dibarengi muntah atau diare, dan muncul radang tenggorokan pada bayi di bawah usia 3 bulan dan ada riwayat kejang sebelumnya.

Dengan kata lain, hanya dalam kondisi-kondisi tertentu demam menjadi berbahaya. Yakni ketika disertai sakit kepala, tubuh lemas, demam sudah berlangsung lebih dari 72 jam atau 3 hari berturut-turut, serta kejang-kejang. Kebanyakan demam berakhir baik-baik saja. Sebelum ke dokter, setidaknya tunggu sampai 24 jam, sembari memerhatikan gejala-gejala tambahannya.

Untuk bayi yang demam, dianjurkan membawanya ke dokter apabila suhunya mencapai 38,50C. Dikhawatirkan terjadi infeksi yang tergolong berat dan tubuh tak dapat mengatasinya tanpa bantuan obat-obatan.
Penulis : Hilman Hilmansyah

http://m.kompas.com/news/read/data/2008.11.02.19033612

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s